Feed on
Tulisan
Komentar

Bukan karena apa-apa

Tiga bulan sudah sejak saya memasuki dunia blogspher, banyak yang saya dapat tapi teramat sedikit yang saya berikan, terima kasih buat semua yang telah andil memberikan pengetahuan, pandangan hidup, hiburan dan suport. Tapi sayang saya mesti istirahat sejenak. Warnet tempat saya mangkal sedang bersiap-siap untuk pindah tempat, mungkin besok atau lusa bisa juga beberapa hari kedepan sementara saya belum menemukan tempat yang senyaman di sini (yang dekat dengan rumah saya).

Jadi saya mohon pamit, mohon maaf, mohon do’a, mohon jangan berprasangka apa-apa ini semata-mata karena alasan di atas, mudah-mudahan saya bisa segera menemukan kenyamanan di tempat baru, sampai bertemu kembali, Wassalam.

www.brapiolove.wordpress.com

Kisah seorang penjahit

Dua puluh tahun sudah aku duduk dibangku ini memandang jalan yang kadang sepi kadang riuh, entah sudah berapa celana dan kemeja yang kubuat, entah sudah berapa nama yang hadir dibuku pesanan yang terus berganti, hari ini aku masih disini.

Aku jejakan kakiku di ibukota ini saat usiaku 17 tahun, Mas Darso seorang penjahit dari desa kelahiranku yang membawaku untuk sekedar membantu dirumah, kadang memasang kancing baju atau celana dari para pemesan, lambat laun aku bisa memotong, mengukur dan menjahitnya, sehingga dengan hati lapang pada bulan ke delapan Mas Darso mencarikan aku tempat untuk berusaha sendiri, di sebuah jalan yang tak begitu ramai kusewa kios 2,5 x 4 meter sebagai tempat usaha sekaligus tempat tinggalku yang ditukar dengan uang hasil gadai sawah Bapak, mesin jahit pinjaman Mas Darso dan beberapa helai bahan celana dan baju juga dipinjamkanya.

Hari-hari pertamaku adalah hari-hari putus asa karena hampir seminggu belum satupun yang datang mengunjungi untuk minta dibuatkan celana maupun baju, minggu kedua keberuntungan Mas Darso berimbas pada ku saat sebuah sekolah memesan banyak celana dan baju seragam, sejak itulah aku mulai dikenal dan pelangganpun mulai berdatangan.

Seorang pelanggan menyarankan agar Aku membuat “plang” agar orang mudah mengenali dan mendatangi tempatku dan pelanggan baru mungkin akan tertarik untuk singgah. Sebuah nama terlintas dibenakku mungkin akan bagus “RAHAYU TAYLOR”.

Rahayu, siapa dia….? dia adalah wanita perkasa yang kulihat dibelantara ibukota ini setidaknya menurutku, dia tak pernah tau kalau telah menjadi inspirasi dan pemompa semangatku bahkan mungkin dia juga tak mengenal siapa aku. Selama aku duduk disini, hampir setiap hari kulihat seorang perempuan melintas dengan sepeda penuh semangat menuju dan kembali dari tempatnya bekerja. Sejak rambut hitamnya terurai sampai memutih, perempuan itu setiap pagi dan sore tetap melintas dengan sepedanya. Aku mengetahui nama perempuan itu saat seseorang menyapanya, Rahayu namanya.

Lima tahun sejak Rahayu Taylor berdiri merupakan saat dimana aku begitu banyak mendulang rejeki, pesanan langsung maupun order tambahan dari Mas Darso membuatku memutuskan untuk mencari tenaga tambahan demi memuaskan pelanggan, kepuasan pelanggan bukan hanya pada baiknya jahitan tetapi juga ketepatan waktu. Mungkin inilah yang menjadikan pelangganku terus bertambah, tahun keenam paviliun tempatku menyewa sudah menjadi miliku, kini kios sudah meluas menjadi 6 x 10 meter dengan sedikit halaman dan kubangun bertingkat, sungguh karunia luar biasa pada tahun itu juga Bapak menjodohkan aku dengan NING keponakan dari Mas Darso, seorang wanita yang lembut namun cekatan dan penuh kasih sayang dan tentu saja cantik di mataku.

Memasuki tahun kedelapan, mulailah agak tersendat usahaku, walaupun Mas Darso yang memutuskan pulang ke kampung merekomendasikan Rahayu Taylor untuk semua pelanggannya. Tahun itu konveksi tumbuh bak jamur dimusim penghujan, Baju Jadi dan kemeja Jadi menyerbu pasar dengan angkuhnya, ditambah mulai bermunculan Mall-mall dan pusat perbelanjaan mewah yang ikut mengecer pakaian jadi, semakin membenamkan usaha ku.

Orang-orang mulai berpikir praktis untuk hal sandang ini, untuk harga yang sama dengan ongkos jahit mereka sudah bisa membeli sebuah celana atau pun baju ditambah dengan mode yang terus berubah, alhasil sejak itu aku hanya menjahit pakaian seragam pegawai maupun seragam sekolah, tahun-tahun berikut pelanggan makin berkurang sekolah- sekolah kini bekerja sama dengan konveksi untuk pengadaan seragam para murid. Alhamdulillah masih ada satu dua pelanggan yang datang untuk membesarkan atau mengecilkan pakaian yang dibelinya.

Allah menunjukan kuasanya buat kami sekeluarga, samping rumah yang menghadap ke jalan kecil disulap oleh istriku menjadi warung nasi, setelah berembuk dengan ku untuk mengatasi keadaan ini dan demi kelangsungan hidup kami yang tentu saja aku setujui, di etalase kaca dituliskan “warung Nasi NING”, bukan Rahayu.

Rahayu, yah perempuan itu masih mengayuh sepedanya, ditengah lalu lalang kendaraan yang kian padat, disaat sepeda motor bertebaran, perempuan itu masih setia mengayuh sepeda pagi dan sore, Ning Istriku tak pernah tau kalau nama plang menjahitku adalah nama dari perempuan itu. Sama sepertiku Ning hanya tau kalau perempuan itu selalu melintas pagi dan sore di jalan ini dengan sepedanya.

Bagas dan Putri dua anakku kini sudah duduk dikelas 4 dan 6 sekolah dasar, aku masih menjahit dan istriku menjalankan warung nasinya, kami hidup bahagia meski jauh dari kemewahan namun juga tak kekurangan hanya halaman rumah kami sudah tak ada lagi dilahap oleh pelebaran jalan, sejak itu tak kulihat lagi Rahayu bersepeda melintas dijalan ini, entah dia sudah berhenti kerja atau wajahnya tertutup helem karena mengendarai sepeda motor yang kian memadati jalan-jalan di ibukota.

———-

disarikan dari cerita seorang sahabat

 

Nantikan aku dalam do’a

Pekik merdeka dan suara takbir
berlomba memacu semangat
sementara,
bau anyir menyeruak
dari mayat-mayat bergelimang darah
memicu dendam sang angkara
.
sayangku,
bila mentari meredup diufuk sana
dan aku belum kembali
ceritakan padanya tentang para pejuang
sementara,
kulangkahkan kaki
diatas tanah merah basah oleh darah
.
senyum para syuhada
menikam jauh ke lubuk hati
melewati merah darah dan putih tulang
membakar nyali mengobarkan kesumat
.
sayangku,
bila mentari meredup diufuk sana
dan aku belum kembali
nantikan aku dalam do’a
———-

inspirasi “Kerawang Bakasi” oleh: Chairil Anwar.

Karya-karyanya senantiasa bernuansa Cinta, perjuangan dan Kematian, beliau sendiri tak lama hidup di dunia fana ini dan meninggal sebelum genap usia 27 tahun.

ADA LAGI YANG MATI

Salam Blogers

Pertama-tama terimalah salam sejahtera buat semua rekan blogers, semoga saat ini dalam keadaan sehat wal afiat tanpa kurang suatu apapun juga dan semoga kreativitas selalu ada untuk mengalirkan tulisan sebagai buah pemikiran ide-ide yang bertumpuk dalam otak maupun hayal. Apa yang sedang terjadi di dunia maya, khususnya di WordPress kita ini paling tidak telah memunculkan kegelisahan tersendiri.

Satu persatu kita kehilangan rekan, mulai dari yang hendak istirahat dengan alasan refreshing maupun terkendala kegiatan dunia nyata, ada yang lenyap bagai angin tanpa pesan maupun berita, semoga suatu saat mereka akan kembali.

Belakangan ada beberapa yang pergi untuk memulai awal kehidupan ditempat yang baru dan seringkali karena fakir benwit agak susah untuk dikunjungi, terakhir ada beberapa yang mati dengan sengaja membunuhnya bahkan sempat meninggalkan pesan kematian yang begitu indah, untuk yang ini kiranya reinkarnasi masih kita harapkan.

Sebagai makluk sosial tentu kita tak lepas dari kebutuhan bermasyarakat, bersosialisasi serta bekomunitas yang tentu saja akan menimbulkan efek pertemanan maupun perselisihan suatu hal yang wajar bila dalam pergaulan kita bersinggungan pendapat, beda pemahaman dan persepsi, teramat wajar semua itu manakala kita menyadari bahwa kita berangkat dari kutub yang berbeda, dari tingkat pendidikan yang berbeda dari tingkat kecerdasan yang berbeda dan begitu banyak perbedaan yang melatar belakangi.

Dari berbagai perbedaan tadi munculah beberapa karakter dalam hal penyampaian, ada yang bertutur kata dengan lantang apa adanya penuh kejujuran seolah tak peduli dengan perasaan yang lain, ada yang lemah lembut bahkan dengan kedalaman filosofinya membimbing dan menuntun, ada yang pongah dan ada pula yang sederhana, namun semua itu tidak mengurangi rasa kedekatan kita.

Kehilangan adalah kehilangan tak peduli siapa yang pergi entah lawan apalagi kawan tetap akan meninggalkan bekas dan kenangan meski kita tau dan pahami layaknya semboyan PATAH TUMBUH HILANG BERGANTI, akhirnya waktu jualah yang akan mengkondisikan kita seperti sediakala, namun perlu kita pertanyakan apakah yang hilang akan tergantikan dengan yang sama?, belum tentu dan sudah pasti tidak sama.

Ini semua mungkin hanya kegelisahan sesaat seiring berjalannya waktu, kita akan sama menunggu siapa lagi dan berapa banyak lagi yang akan kita ucapkan “selamat jalan, selamat ke rumah baru, selamat beristirahat” dan berapa lama lagi kita akhirnya bisa menyambut dengan kata-kata “selamat datang kembali” atau “salam kenal”

Akhirnya sebelum kejenuhan merengkuh kita, sebelum rasa malas menyergap kita, ada baiknya kita merenungkan apakah yang kita dapat dari semua yang kita jalani selama berada di blogsphere, kita harus percaya dalam bentuk apapun blogers tetap ada yang bisa kita ambil hikmahnya. Apa yang sudah kita berikan……? hanya teman-temanlah yang sangat tau akan hal ini, sekali lagi percayalah tak ada yang sia-sia dari waktu yang kita berikan dalam dunia maya ini.

 

 

 

Salam .

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Klenik dan Minyak Wangi

Seorang guru pelanggan Ijal memberi tahu, bahwa ada seseorang yang ingin ketemu dengannya, Ijal menyambut gembira dan berfikir paling-paling  butuh  minyakwangi. Guru itu kemudian memberikan alamat  rumah Pak Maman, orang yang ingin bertemu dengan Ijal.

Pak maman mempersilahkan Ijal masuk dan langsung menutup pintu rumahnya, tak ada orang lain kecuali mereka berdua hingga Ijal terusik untuk bertanya sekedar memulai pembicaraan.

“Pada kemana Pak, keliatannya sepi?”

“Iya Mas Ijal, istri dan anak-anak  sudah 2 minggu ini berada di kampung”.

“ooh begitu, Pak Guru  bilang Bapak ingin bertemu saya, ada apa ya Pak?”

“Ini lho Mas, kami berencana untuk menetap di kampung mau bertani lagi, dan kami berniat menjual rumah ini”.

“Terus hubungannya sama saya apa Pak?”

“Begini Mas, kemarin saya sudah berkonsultasi dengan orang pintar kalau rumah ini harus dibersihkan dulu biar cepat laku, katanya rumah ini kelihatan suram, padahal sudah banyak yang datang melihat tapi selalu nggak jadi membeli”.

“Saya rasa rumah bapak sangat bersih dan temboknya kelihatan baru di cat”.

“Bukan begitu, masa Mas Ijal nggak tau maksudnya”.

Rupanya Pak Maman diminta untuk menyediakan perlengkapan membesihkan rumah yang dimaksud adalah mengusir setan dan jin yang ada di rumahnya itu, Pak Maman yakin benar dengan semua ucapan orang pintarnya, mulai dari kesehatan istri dan anak-anaknya yang sering terganggu sampai pada usaha Pak Maman yang menurun merupakan alasan kuat yang sangat dipercaya Pak Maman. “padahal saya baru ketemu untuk pertama kali lho Mas dengan orang pintar itu, tapi dia tau semua tentang saya dan keluarga”

Nah, salah satu kebutuhannya adalah minyak wangi Mas, kalau nggak salah saya disuruh menyediakan minyak “JAFARON” dan “MISIK” apa mas Ijal punya yang saya maksudkan,  atau mungkin bisa carikan buat saya. Ijal menarik nafas panjang, berkecamuk fikiran antara memperoleh keuntungan dan penolakan bathinnya atas permintaan Pak maman. “Kenapa nggak minta carikan sama orang pintar itu aja Pak, bukankah jadi lebih baik dan nggak bakal salah?” Ijal mencoba berkelit. “Memang ada dan dia sudah menunjukan tempat membelinya tapi harganya kan mahal Mas  200 ribu sebotol kecil seperti ini” Pak Maman menunjukan botol kecil yang Ijal tau isinya paling banyak 1,5 cc, malah yang satunya 500 ribu dengan ukuran yang sama dan harus kontan. Barangkali dengan Mas Ijal saya bisa bayar separuhnya dulu dan separuhnya lagi kalau rumah ini sudah laku,  percaya sama saya Mas pasti saya bayar.

Terbayang oleh Ijal, dibayar 50 ribu saja sudah merupakan keuntungan yang berlipat,  ada keraguan di hati Ijal antara menolak dan rasa ingin menolong Pak Maman, kalau toh ditolaknya Pak Maman Pasti akan tetap membeli dan mencari ke tempat lain dengan harga yang sangat mahal, kalau disediakan apakah ini tidak temasuk ikut menyetujui perdukunan.

“Baiklah Pak kapan orang itu akan datang nanti saya bawakan”

“Tiga hari lagi Mas, saya harus kasih berapa dulu?”

“Nanti aja Pak, jangan khawatir Insya Allah saya datang”

Ijal pulang dengan perasaan dan pikiran yang masih tak menentu, apa yang sebaiknya dilakukan dan bagaimana agar Pak Maman mengerti bahwa dia telah terjebak dalam kesyirikan tanpa disadari.

Tiga hari berlalu,  Ijal sudah hadir kembali di rumah Pak Maman yang kali ini bersama orang pintarnya, seorang lelaki separuh baya berpenampilan menarik, mengunakan baju koko putih dengan peci hitam, diatas meja ada kotak kayu yang entah apa isinya.

“Bagaimana Mas Ijal, dapat minyaknya?”

“Ada Pak” Ijal menyerahkan 2 botol berukuran 5 cc

Wajah orang pintar itu berubah melihat apa yang Ijal sodorkan, terkesan bahwa dia tidak suka akan hal ini, ” Pak Maman, minyak ini saya bawa dulu, saya kerjakan di rumah saja” orang itu kemudian pamit setelah membawa minyak wangi dan sekepal tanah dari halaman rumah. Di ujung jalan orang itu dijemput dengan sepeda motor.

“Terima kasih Mas Ijal, ini saya bayar 300 ribu dulu, nggak apa-apa kan?”

“Nggak usah Pak, saya yakin orang itu takan kembali lagi”

Ijal menjelaskan bahwa Pak Maman baru saja terlepas dari penipuan, “Pak, mereka bekerja sama untuk mengelabui, yang menjemput tadi saya kenal betul dia juga penjual minyak wangi seperti saya, kalau boleh saya terus terang minyak itu tak lebih dari 20 ribu rupiah, dan maaf Pak Maman bukan saya menggurui, percaya kepada peramal atau ahli nujum akan menyeret kita kepada kemusyrikan”

Setelah meyakinkan Pak maman, Ijal pun pamit dan dia tak dapat menolak ketika Pak maman memaksa meyodorkan uang 20 ribu sebagai pengganti minyak wangi yang dibawa orang tadi.

Ijal kembali berjalan mendatangi sekolah-sekolah berbagi kisah dan pengalaman dengan guru-guru yang masih setia menjadi pelanggan nya.

 

———-

disarikan dari cerita seorang sahabat.

Penjual Minyak Wangi

Selepas shalat Ashar, Ijal duduk di teras mesjid disandarkan tubuhnya yang letih setelah seharian berkeliling dari satu sekolah ke sekolah lain, dia menjajakan Minyak wangi kepada guru-guru dan pegawai sekolah, biasanya dia mengunjungi sekolah pada saat jam istirahat dimana para guru biasanya berkumpul di ruang  guru.
Hari ini belum banyak yang membeli,  di tangannya    baru  ada uang hasil penjualan sebesar Rp. 30.000,-  artinya uang sebesar itu akan habis besok pagi untuk sarapan dan bekal 3 orang anaknya sekolah serta ongkos berkeliling dirinya, lantas apa yang akan ditinggalkan buat istri di rumah dan makan ketiga anaknya sepulang sekolah, Ijal berniat untuk mendatangi salah satu sekolah lagi, tapi diurungkan saat ini jam istirahat telah selesai dan para guru berada dalam kelas.
+ “Mas, tempat penitipan sepatunya mana?” tanya seorang Bapak 
x “sebelah sana, tapi orangnya sudah pulang,kenapa Pak?”
+ “Saya mau shalat Ashar” sambil menengok sekeliling
x”Kalau begitu silahkan Pak, biar sepatunya titip disini, kebetulan saya belum mau pulang” Ijal menangkap kekhawatiran dari si Bapak itu.
Selesai shalat Bapak tadi bercerita bahwa dia pernah kehilangan sepatu beberapa waktu yang lalu saat shalat ashar di mesjid ini.
+ “Terima kasih Mas jadi ngerepotin, mau kemana Mas?”
x “mau pulang Pak habis berjualan” ujar Ijal setengan berpromosi
+ “Jualan apa Mas, mana barangnya?”
x “Minyak wangi Pak, di dalam tas ini”
+ “Cuma satu tas itu bawaannya?”
x ”Iya Pak, sebab saya menjual “biang”nya
+ ”Wah, saya baru tau kalau minyak wangi ada biangnya, boleh saya liat?”
Ijal pun dengan semangat mengeluarkan beberapa botol minyak wangi tersebut sambil menerangkan bahwa biangnya ini belum dicampur alkohol.
+ “kalau saya mau beli bagaimana caranya?”
x “Saya jual per cc Pak, Boleh berapa saja”
+ “Harganya berapa?”
x “Ada yang seribu, 2 ribu sampai 4 ribu per cc”
+ “Yang bagus yang mana mas?”
x “tegantung selera Pak, ini ada MISIK, KESTURI, seribu bunga dan banyak lagi Pak untuk harum seperti yang Bapak pakai juga ada Pak”
+ ” Ah yang bener, memangnya saya pakai Parfum apa?”
x “Merk “ini” kan Pak?” ujar Ijal sambil menyorongkan salah satu botol minyak wangi.
+ “wah hebat, kalau begitu saya beli 10 cc, harganya berapa?”
x “ini memang agak mahal Pak, 4000 per ccnya
+ “nggak apa-apa, bikin 2 ya”
Ijal dengan cekatan mengambil alat injeksi yang tersambung dengan selang kecil, ditariknya sampai seukuran 10 cc.
x “Ini Pak 10 cc dijadikan 2 botol Pak” tanya Ijal sambil memperlihatkan ukuran yang tertera di tabung injeksi itu
+ “bukan, dua-duanya 10 cc, ini uangnya nggak usah dikembalikan”
+ “Alhamdulillah, terima kasih Pak”
Bapak itu kemudian bertanya kepada Ijal tentang usaha yang digelutinya itu, dengan terbuka Ijal menjelaskan, Dia sudah lebih 5 tahun berjualan dari satu sekolah ke sekolah yang lain, hampir semua sekolah  di daerahnya pernah dia singgahi, sampai Ijal tau benar Ibu A, Bapak B mengajar dimana, pendeknya kalau dijadikan penilik sekolah mungkin Ijal tau persis bagaimana kondisi masing-masing sekolah terutama dari bangunan fisiknya, Ijal mengaku bahwa dia suka dengan pekerjaan ini selain mencari nafkah tali silaturahmipun terjalin baik dengan para guru karena hampir setiap dua bulan sekali Ijal berkunjung kesekolah yang sama.
Karena disekolah para guru selalu menyambut baik kedatangan saya dibanding dengan perkantoran atau dari rumah ke rumah, mereka senantiasa tersenyum dan bertutur ramah setiap saya berkunjung hingga saat tidak membelipun saya tak pernah merasa kecewa, begitu Ijal memberikan alasan saat ditanyakan mengapa sekolah yang jadi tujuan penjualannya. Bahkan saya bukan lagi dipandang sebagai penjual minyak wangi semata, saya seolah dianggap bagian dari mereka, sebab jika lama tidak datang ada saja teman guru yang menelepon ke rumah menanyakan kabar saya atau kadang memesan minyak wangi untuk diantarkan ke sekolah tempatnya mengajar.
Sebelum pergi bapak tadi mencatat nomor telepon Ijal sambil menyodorkan kartunama, Insya Allah kita bertemu lagi ujarnya. Letihnya hilang, dengan penuh semangat Ijal berangkat pulang sambil menyisipkan dua lembar uang ribuan ke kotak amal masjid, terima kasih Ya ALLAH hari ini KAU tambah satu lagi saudaraku.
  b e r s a m b u n g …….
———-

disarikan dari cerita seorang sahabat   

 

 

 

 

Tulisan berikut adalah salah satu Cerpen dari HAMKA yang saya tulis kembali, Tulisan ini pernah dimuat di Majalah “PEDOMAN MASJARAKAT”  pada tahun 1938 sedangkan saya menyalinnya dari sebuah buku yang berjudul LEMBAGA HIKMAT yang diterbitkan oleh PUSTAKA NASIONAL Medan, serie ke XVII — 1950. Tidak ada maksud tertentu selain memberikan Apresiasi kepada Buya Hamka dan sekaligus berharap menjadi penghilang dahaga bagi para pengagum Buya.

Kehidupan Bathin dari Orang Besar

oleh : HAMKA

Meskipun pada penglihatan orang2 diluar, radja2 jang besar itu hidup dalam kemewahan dan kemegahan namun pada ‘adatnya kemewahan dan kemegahan itu hanja nampak dari luar sadja. Banjak sekali orang2 demikian menanggung kesengsaraan dan kesusahan jang tiada terperikan. Disini tidak akan kita terangkan bagaimana sengsara nasib orang2 besar dan radja2 yang masih hidup, tjukup salah seorang jang telah meninggal kita ambil perumpamaan, supaja mendjadi keinsjafan bagi kita.
Kaizer Frans Josep bekas Keizer dari keradjaan Oostenrijk-Hongaria yang begitu luas.–seketika Keizer itu masih hidup, disekitar kemewahan lahir yang kita lihat, baginda telah ditimpa berbagai matjam bala bentjana jang besar dan ngeri, tetapi semuanja baginda hadapi dengan hati jang teguh bagai batu dan kemauan jang keras lajaknya.
Pada lahirnja adalah Keizer Frans Josep keturunan Habsburg itu seorang radja jang paling beruntung. Dialah seorang radja yang paling lama dibandingkan denga radja2 jang semasa dgn di, duduk diatas singgasana kerajaan. 68 tahun baginda memerintah disuatu keradjaan yang sangat luas. Dia meninggal dunia dalam usia 86 tahun, setelah matanja kenjang oleh kemegahan dan kedjajan dunia, jang agaknja orang yang ta’ tahu rahsia kesusahannja akan merasa dengki melihatnja.
Diwaktu dia masih muda belia, sadara kandungnya Maxiemilien telah dihukum bunuh. Meskipun bagaimana bergontjang hatinja diwaktu itu, sedikitpun ta’ kelihatan berbekas pada tubuhnja. Semangatnja jang masih muda dan darahnja yang masih hangat telah berkuasa untuk menghilangkan peringatan jang pahit itu dari dalam otaknja dan kenangannja. Belum lama setelah Maximilien dihukum bunuh, dengan perasaan tabah dia menghadapi kematian istri saudaranja, perempuan mana mati dibakar.
Tidak berapa lama kemudian; datang pula satu tjobaan jang paling mengenasi diri baginda, pemaisuri keradjaan Oostenrijk, ratu Elizabeth ditimpa penjakit otak. Seorang dokterpun tak kuasa mengobatinja lagi. Lantaran itu, permaisuri tersebut ta’ kuasa lagi tinggal dalam astana, ta’ kuat terikat oleh ‘adat dan isti’adat radja2 jang begitu berat, dia tinggalkan suaminja jang malang itu, dia pergi mengahabiskan harinja ketempat2 mandi jang indah di corfo, Riviera, Switzerland, untuk mengobat-obat sakitnja, setelah ta’ bertemu lagi dengan baginda . Musibah jang besar itu telah diterimanja dengan teguh hati teguh sebagai biasa, tjuma orang2 istana sadja jang keheranan melihat bagaimana rupa dan wajah baginda ta’ berobah lantaran itu.
Sesudah itu datanglah satu musibah jang lebih besar lagi. Anak tunggalnja Arst-Hertog Rudolf, Putera Mahkota jang akan menggantikan baginda duduk diatas singgasana keradjaan, telah hadir dlm satu gala-abond jg diadakan oleh Ambasador Djerman di Wenen, memepringati hari lahirnja Imperium Djerman Raja. Disana Arts-Hertog, telah berkenalan dengan Baronesse Fitzera. Baronesse ini masih muda dan djelita, baru berusia 17 tahun, sangat tjantiknja, sehingga baru melihat sadja, hati Arts- Hertog telah lupa rasam-basi dan ‘adat isti’adat, dimuka orang banjak dia menarokkan perhatian kepada Baronesse ini, dan dia lalai menjelanggarakan istrinja sendiri Prises Stefani. Lantaran ini isterinja sangat murka. Setelah hari pagi ia pergi kepada Keizer mengadukan halnja, bahwa suaminja ditempat umum sebagai demikian telah melupakannja dan tidak menghargainja sebagai seorang isteri. Dia kadukan pula bahwa sanja perhubungan suaminja dengan Baronesse Fitzera telah diketahui oleh umum, telah menjadi buah tutur orang banjak , djadi perbintjangan surat2 kabar. Prinses Stefani memohonkan perlindungan kepada Keizer, sebab bagindalah pemimpin kefamilian besar jang mulia itu, supaja baginda sudi memberinja perlindungan, sebab dialah kelak jang akan mendjadi permaisuri dari Keizer Oostenrijk.
Baru sadja Prinses itu keluar dari istana, baginda menjuruh Arts-Hertog datang keistana. Dia bawa duduk berdua-dua, waktu itulah anaknja dimarahinja dan ditjelanja atas perbuatan jang djauh dari radja2. Anak itu disuruhnja berdjandji, - djandji radja2 - supaja djangan bertemu lagi dgn Baronesse Fitzera. Tetapi sebelum matahari terbenam, pangeran itu telah keluar dengan keretanja keluar kota Wenem, didjemputnja Baronesse itu, dibawanja kesebuahV illa didusun Mayerling, disana dia semalam-malaman itu. Sampai disana dia mengadukan halnja kepada direktur villa itu, bagaimana kemerdekaan dirinja diikat, langkahnja dihambat2, segala langkah kakinja dihitung, itu terlarang , ini ta’ boleh. Baru sedikit gerak geriknja, bagi orang umum mendjadi perhatian besar, jang sedjengkal menjadi sedepa lajaknja. Apakah sebabnja ahli2 diplomat, dan orang2 ahli bitjara dan utusan2 luar negeri banjak benar menghiraukan soal persoon orang? ,,Wahai, - kata pangeran itu, - alangkah beruntungnja djika saja dahulunja dilahirkan kedunia mendjadi seorang anak orang tani sadja, tidak terhambat, –terhalang terbelintang seperti jang sekarang ini . Orang diluar istana tidak mengetahui bagaimana kesusahan burung jang dikurung dalam sangkar emas itu. Mereka hanja melihat keindahan sangkar itu, tidak mengetahui bagaimana kesusahan dan penderitaan manusia2  jang diberi gelar radja, bangsawan, pangeran dengan gelaran bintang mentereng, tetapi diikat dengan beberapa aturan jang amat berat menjempitkan,dengan tidak memperhatikan kesukaan dan tudjuan dan tjita tjita dari orang2 jang diikat itu. Hatta urusan perkawinanpun, tidak hendak dilihat dan diperiksai perempuan manakah jang disukainja; melainkan perempuan jang disukai orang2 ahli diplomat itu kemuslihatan keradjaan itulah jang lebih dipentingkan. Segala keketjiwaan itu telah disabarkan oleh direktur gedong jang indah itu, sebagaimana kebiasaan orang2 jang telah mahir berhidmat kepada radja2 dan orang2 besa. Dan demi setelah hari pagi Direktur itu terkedjut mendapati pangeran itu dengan Baronesse Fitzera telah hantjur kepala keduanja oleh pelor.
Itulah musibah jang sebesar2nja diantara demikian banjak musibah jang menimpa diri baginda Franz Josef. Musibah jang sekali ini tidak akan memberi izin lagi baginda hidup lama2 didunia, ibarat bergantang sudah terlalu penuh. Tatapi orang ,,besi” ini tetap dalam ke-besi-annja. Dia tidak senang mendengar kalau ada orang membisikkan bahwa baginda kalah menghadapi serangan takdir jang begitu hebat. Demi setelah dia bermenung seorang dirinja beberapa menit lamanja, dia pergi kemedja sembahjang dia berlutut mendo’a dan memohon ampunan Tuhan. Tidak beberapa djam kemudian, keluarlah perintah baginda dengan tenang dan tegap, jang bersetudju dengan kedudukanja jang besar itu, menjiarkan kabar opisil dari dalam istana, bahwasanja putera mahkota telah meninggal dunia lantaran suatu luka dalam otak, dan penjakit djantung jang hebat. Adapun kabar kemayian Baronesse Fitzera tidak disertakan dalam maklumat opisil itu. Masa itu djuga dimaklumkan bahwasanja saudara baginda jang paling besar Aarts-Hertog Franz Ferdinand menjadi putera mahkota. Setelah habis hari perkabungan umum menurut ‘adat, baginda kembali pula mengerdjakan pekerdjaan pemerintahan sebagai sediakala.
Tetapi belum sempurna ketentraman hati baginda atas musibah jang sebesar2nja itu,  datanglah raport dari Switzerland menerangkan bahwa permaisuri baginda telah mati ditikam dengan pisau belati oleh seorang monarchist, ketika permaisuri akan naik tangga kapal, jang biasa membawa penompang dari satu negeri kenegeri lain dipinggir lautan.
3 bulan setelah permaisuri mati terbunuh, di Weenen dirajakan orang ,,jubileum mas” memperingati 50 tahun baginda duduk diatas singgasana keradjaan.
Orang banjak merasa gembira, orang jang kurang pikir merasa dengki melihat keberuntungan baginda telah 50 tahun dapat duduk diatas singgasana keemasan, tetapi sedikit sekali orang jang meratap menangisi radja jang malang itu. Golongan inilah jang tahu bahwa radja ini ta’ pantas dibentji, tetapi pantas dikasihani dan diratapi.
Tidak beberapa lama setelah jubida Giravin Shofin Csheko, djuru raport bahwasanja Aarst Hertog Franz Ferdinand jang akan menggantikan keradjaan itu, telah djatuh tjinta kepada Gravin Shofie Csheko, djururawat Aarst Hertogin Izabella. Putera Mahkota kerapkali benar berulang-ulang kedalam istana dengan alasan hendak ziarah kepada Prinses padahal hanja lantaran hendak bertemu dengan djururawat Shofie itu. Ketika itulah baru njata kemarahan baginda, sehingga segala tjertjaan dan kemarahan didjatuhkan kepada saudaranja itu. Untunglah hal ini diketahui oleh ahli2 bitjara dengan segeranja — sehingga bisa didamaikan. Jaitu: Aarst-Hertog diizinkan kawin dengan djururawat itu tetapi dia harus melepaskan hak2 jang perlu diterima oleh anak2nja dengan Shofie itu.
Tetapi malu besar itu telah mulai menambah banjak kerut kening baginda dan membungkukkan punggungnja. Dan baru sadja hendak hening pembitjaraan orang, tiba2 datang pula suatu malu jang lebih besar dari segala malu. Jaitu anak dari saudaranja Aarts-Hertog Otto, telah keluar dari satu kamar dari sebuah hotel jang bernama ,,sacha” –bertelandjang bulat, tidak berkain sebenang djuga dalam keadaan mabuk. Tiba diluar kamar, bertumbuk dengan Ambasador keradjaan Ingris, jang datang makan dengan isteri dan anak perempuannja kedalam hotel itu.
Inilah musibah yang tidak dapat ditanggung baginda lagi, tuanja bertambah, mukanja bertambah kerut, malu jang bertjoreng  dikeningnja dibawanja bermenung . Lantaran timpaan jang tidak berhenti2 itu, rupanja ta’ tahan orang ,,besi” itu lagi. Tiba2 pada tahun 1916, diwaktu perang besar sedang berketjamuk, dan keradjaan Oostenrijk-Hongarie, berpihak pula kepada Djerman dan Turkey, pada ketika itulah baginda mati dengan tiba2  lantaran hartverlamming, — dalam usia 86 tahun; setelah memerintah 68 tahun lamanja.
Dia kembali keachirat, kenegeri ketenangan dan kerahatan, terlepas dari kebisingan dunia jang  ta’terhingga ini.
Dia mati, dengan penuh kepertjajaan: bahwasanja kepalanja, satu kepala jang lebih tahan memikul mahkota !
  

Older Posts »