Seorang guru pelanggan Ijal memberi tahu, bahwa ada seseorang yang ingin ketemu dengannya, Ijal menyambut gembira dan berfikir paling-paling butuh minyakwangi. Guru itu kemudian memberikan alamat rumah Pak Maman, orang yang ingin bertemu dengan Ijal.
Pak maman mempersilahkan Ijal masuk dan langsung menutup pintu rumahnya, tak ada orang lain kecuali mereka berdua hingga Ijal terusik untuk bertanya sekedar memulai pembicaraan.
“Pada kemana Pak, keliatannya sepi?”
“Iya Mas Ijal, istri dan anak-anak sudah 2 minggu ini berada di kampung”.
“ooh begitu, Pak Guru bilang Bapak ingin bertemu saya, ada apa ya Pak?”
“Ini lho Mas, kami berencana untuk menetap di kampung mau bertani lagi, dan kami berniat menjual rumah ini”.
“Terus hubungannya sama saya apa Pak?”
“Begini Mas, kemarin saya sudah berkonsultasi dengan orang pintar kalau rumah ini harus dibersihkan dulu biar cepat laku, katanya rumah ini kelihatan suram, padahal sudah banyak yang datang melihat tapi selalu nggak jadi membeli”.
“Saya rasa rumah bapak sangat bersih dan temboknya kelihatan baru di cat”.
“Bukan begitu, masa Mas Ijal nggak tau maksudnya”.
Rupanya Pak Maman diminta untuk menyediakan perlengkapan membesihkan rumah yang dimaksud adalah mengusir setan dan jin yang ada di rumahnya itu, Pak Maman yakin benar dengan semua ucapan orang pintarnya, mulai dari kesehatan istri dan anak-anaknya yang sering terganggu sampai pada usaha Pak Maman yang menurun merupakan alasan kuat yang sangat dipercaya Pak Maman. “padahal saya baru ketemu untuk pertama kali lho Mas dengan orang pintar itu, tapi dia tau semua tentang saya dan keluarga”
Nah, salah satu kebutuhannya adalah minyak wangi Mas, kalau nggak salah saya disuruh menyediakan minyak “JAFARON” dan “MISIK” apa mas Ijal punya yang saya maksudkan, atau mungkin bisa carikan buat saya. Ijal menarik nafas panjang, berkecamuk fikiran antara memperoleh keuntungan dan penolakan bathinnya atas permintaan Pak maman. “Kenapa nggak minta carikan sama orang pintar itu aja Pak, bukankah jadi lebih baik dan nggak bakal salah?” Ijal mencoba berkelit. “Memang ada dan dia sudah menunjukan tempat membelinya tapi harganya kan mahal Mas 200 ribu sebotol kecil seperti ini” Pak Maman menunjukan botol kecil yang Ijal tau isinya paling banyak 1,5 cc, malah yang satunya 500 ribu dengan ukuran yang sama dan harus kontan. Barangkali dengan Mas Ijal saya bisa bayar separuhnya dulu dan separuhnya lagi kalau rumah ini sudah laku, percaya sama saya Mas pasti saya bayar.
Terbayang oleh Ijal, dibayar 50 ribu saja sudah merupakan keuntungan yang berlipat, ada keraguan di hati Ijal antara menolak dan rasa ingin menolong Pak Maman, kalau toh ditolaknya Pak Maman Pasti akan tetap membeli dan mencari ke tempat lain dengan harga yang sangat mahal, kalau disediakan apakah ini tidak temasuk ikut menyetujui perdukunan.
“Baiklah Pak kapan orang itu akan datang nanti saya bawakan”
“Tiga hari lagi Mas, saya harus kasih berapa dulu?”
“Nanti aja Pak, jangan khawatir Insya Allah saya datang”
Ijal pulang dengan perasaan dan pikiran yang masih tak menentu, apa yang sebaiknya dilakukan dan bagaimana agar Pak Maman mengerti bahwa dia telah terjebak dalam kesyirikan tanpa disadari.
Tiga hari berlalu, Ijal sudah hadir kembali di rumah Pak Maman yang kali ini bersama orang pintarnya, seorang lelaki separuh baya berpenampilan menarik, mengunakan baju koko putih dengan peci hitam, diatas meja ada kotak kayu yang entah apa isinya.
“Bagaimana Mas Ijal, dapat minyaknya?”
“Ada Pak” Ijal menyerahkan 2 botol berukuran 5 cc
Wajah orang pintar itu berubah melihat apa yang Ijal sodorkan, terkesan bahwa dia tidak suka akan hal ini, ” Pak Maman, minyak ini saya bawa dulu, saya kerjakan di rumah saja” orang itu kemudian pamit setelah membawa minyak wangi dan sekepal tanah dari halaman rumah. Di ujung jalan orang itu dijemput dengan sepeda motor.
“Terima kasih Mas Ijal, ini saya bayar 300 ribu dulu, nggak apa-apa kan?”
“Nggak usah Pak, saya yakin orang itu takan kembali lagi”
Ijal menjelaskan bahwa Pak Maman baru saja terlepas dari penipuan, “Pak, mereka bekerja sama untuk mengelabui, yang menjemput tadi saya kenal betul dia juga penjual minyak wangi seperti saya, kalau boleh saya terus terang minyak itu tak lebih dari 20 ribu rupiah, dan maaf Pak Maman bukan saya menggurui, percaya kepada peramal atau ahli nujum akan menyeret kita kepada kemusyrikan”
Setelah meyakinkan Pak maman, Ijal pun pamit dan dia tak dapat menolak ketika Pak maman memaksa meyodorkan uang 20 ribu sebagai pengganti minyak wangi yang dibawa orang tadi.
Ijal kembali berjalan mendatangi sekolah-sekolah berbagi kisah dan pengalaman dengan guru-guru yang masih setia menjadi pelanggan nya.
———-
disarikan dari cerita seorang sahabat.