Nantikan aku dalam do’a
Januari 27, 2008 oleh hadi arr
Pekik merdeka dan suara takbir
berlomba memacu semangat
sementara,
bau anyir menyeruak
dari mayat-mayat bergelimang darah
memicu dendam sang angkara
.
sayangku,
bila mentari meredup diufuk sana
dan aku belum kembali
ceritakan padanya tentang para pejuang
sementara,
kulangkahkan kaki
diatas tanah merah basah oleh darah
.
senyum para syuhada
menikam jauh ke lubuk hati
melewati merah darah dan putih tulang
membakar nyali mengobarkan kesumat
.
sayangku,
bila mentari meredup diufuk sana
dan aku belum kembali
nantikan aku dalam do’a
———-
inspirasi “Kerawang Bakasi” oleh: Chairil Anwar.
Karya-karyanya senantiasa bernuansa Cinta, perjuangan dan Kematian, beliau sendiri tak lama hidup di dunia fana ini dan meninggal sebelum genap usia 27 tahun.
Wah, yang paling saya ingat “AKU”
bahhh… brilliant
sebuah puisi yang mengandung spirit perjuangan luar biasa, pak hadi. ada muatan nilai religius, nyali, semangat, pengorbanan, sekaligus juga kerinduan.
BTW, maaf numpang OOT, kira2 puisi ini ada hubungannya dengan wafatnya Pak Harto 27 Januari 2008 pk 13.30, ndak ya, Pak? *halah*
Puisinya bagus banget.
::atapsenja
terima kasih mbak Hana
chairil anwar pergi usia muda
karyanya malah mengabadi lama
jadilah chairil baru
tumbuh seribu
salam kenalku
::Toni
terima kasih dah berkunjung
salam kenal kembali.
masih belajar Mas