SELAMAT BERPUASA

Do’a malaikat Jibril menjelang Ramadhan :

“Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:

Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya, (jika masih ada)

Tidak berma’afan terlebih dahulu antara suami isteri

Tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang di sekitarnya

Maka Rasulullah pun mengatakan Amiin sebanyak 3 kali.

Dapatkah kita bayangkan, yang berdo’a adalah Malaikat dan yang meng-amiinkan adalah Rasullullah dan dilakukan pada hari Jumaat. Oleh karena itu SAYA TERLEBIH DAHULU MEMOHON MAAF atas semua kesalahan, baik yang tidak di sengaja maupun yang di sengaja, semoga kita dapat menjalani ibadah puasa dengan Ridho Allah SWT

Selamat menjalankan ibadah puasa ramadhan 1429 H


T U M P U L

sebuah kata dalam bahasa Indonesia dalam arti yang sangat sederhana adalah tidak tajam, namun bukan berarti tidak bisa melukai. Sebilah pisau tua yang lama tidak diasah kemungkinan besar akan menjadi tumpul dan tentu saja tidak tajam, namun masih bisa melukai.

Lalu apa sih yang saya fikirkan sekarang……………. otak saya menjadi tumpul dan tidak tajam lagi tetapi senantiasa akan bisa melukai. halah mau apa sebenarnya dengan kata tumpul kok saya menjadi sangat terganggu dengan kata itu.

Begitulah saat ini kondisi saya, setelah lama tidak kongkow di blog, seolah saya memang menjadi tumpul, lho wong untuk memberikan komen aja saya nggak mampu, mencerna makna tulisan dari rekan-rekan saja rasanya mumet banget, apalagi kalau mau mencoba nulis, halah-halah. Dengan otak yang rasanya lagi tumpul ini saya jadi khawatir kalau komentar dan atau tulisan saya justru melukai orang lain.

Maka dari itulah saya hanya diam seribu bahasa, suatu sikap yang menurut saya akan sangat bijak diambil dalam kondisi saya sekarang ini, tak akan ada yang terlukai dengan tulisan dan atau komentar saya, namun hari ini semua menjadi makin membingungkan buat saya, di balik cover sebuah buku yang sedang saya bersihkan terdapat tulisan tangan dari almarhum Ayahanda, ” ORANG YANG TIDAK AKAN PERNAH BERBUAT KESALAHAH ADALAH ORANG YANG TIDAK BERBICARA DAN TIDAK MELAKUKAN APA-APA, TETAPI ITU MERUPAKAN SEBUAH KEKELIRUAN YANG SANGAT BESAR “.

Lalu dengan otak yang memang sedang tumpul saya mencoba untuk memaknai dan mengambil arti yang terkandung dalam kata-kata itu. yah benar sekali ternyata saya telah keliru besar, mencoba, terjatuh, bangkit, memcoba lagi, terjatuh lagi dan bangkit lagi meski dengan luka akan lebih baik rasanya dibanding tidak melakukan apa-apa.

Salam hangat buat semua rekan blogers, salut dengan konsistensi dan jutaan ide yang tak pernah habis apalagi terputus, izinkan saya mencoba hahahaha.

BBM dan Ojek

Sapaan ramah para tukang ojek selalu akan terdengar jika ada KRL (Kereta Rel Listrik) yang merapat di salah satu stasiun dan menurunkan penumpangnya untuk melanjutkan perjalanan dengan sarana transportasi yang lain, pagi hari adalah waktu yang paling banyak memberikan peluang buat semua peng-ojek (ojekers) apalagi jika KRL agak sedikit terlambat maka mereka akan diperebutkan oleh karyawan yang takut kena SP atau pelajar yang takut kena sanksi. Beberapa pengojek yang mempunyai pelanggan biasanya akan menolak secara halus dengan alasan menunggu, walau dengan perasaan kecewa sang calon penumpang bisa memaklumi.

Roni, salah seorang pengojek yang mangkal di stasiun adalah termasuk yang cukup beruntung dia mempunyai dua orang pelanggan tetap, seorang pelajar dan seorang karyawan swasta, biasanya si pelajar di antar lebih dahulu karena selain jaraknya yang lebih dekat waktu masuk pun lebih dahulu, dari dua orang ini Roni memperoleh Rp. 300.000,-setiap bulannya. Selesai mengantar dua pelanggannya itu Roni kembali ke Stasiun tempatnya mangkal, paling tidak sampai menjelang tengah hari dia bisa mengantar 3 atau 4 orang penumpang dari hasil inilah Roni membiayai Rumah Tangganya sedangkan hasil bulanannya akan di pegang sang Istri untuk keperluan lainnya.

Roni, ternyata adalah lulusan fakultas Ekonomi salah satu perguruan tinggi dan pernah bekerja di salah satu Bank swasta yang terlikuidasi, “Mulanya saya berharap akan kembali mendapat pekerjaan baik di Bank atau perusahaan apa saja yang sesuai dengan kapasitas saya, empat bulan baru saya menyadari kalau kewajiban saya sebagai seorang suami dan sekaligus ayah tak mengenal akan krisis ekonomi, dengan menjual kijang kebanggaan selama ini saya beli sepeda motor sisanya saya tabung untuk melunasi angsuran rumah”. begitulah Roni sedikit berkisah sambil sesekali menatap gedung-gedung tinggi di kiri Jalan. ” Di gedung ini dulu kantor saya, hebat ya Mas?” sekarang…….. inilah saya di tengah-tengah lalu lalang dan deru serta asap kendaraan, tapi Mas saya jauh lebih beruntung dibanding rekan saya yang sampai saat ini menjadi depresi.

Beberapa hari kemudian Aku bertemu lagi dengan RONI, Ojek Mas? begitu sapanya sopan dan tanpa basa-basi aku segera duduk di jok bagian belakang namun Roni tak segera menjalankan motornya malah bertanya tujuan Ku, rupanya perbincangan tempo hari tak mampu buat Roni mengenali wajah dan perawakanku. “Kita ke sebelah gedung tempat Mas Roni dulu bekerja, ingat nggak?”, dia berpaling dan seakan baru tersadar “Wah Mas yang tempo hari yaa, Mari Mas, kalau buat Mas ngak perlu di tawar-tawarin deh.

Sejak BBM Naik, banyak yang selalu bertanya ongkos ojeknya berapa kalau ke sana, kesini atau kesitu, padahal Mas saya hanya minta lebih 1.000 rupiah saja tapi banyak yang mengeluh karena gaji mereka di kantor sampai saat ini belum disesuaikan, begitu alasan mereka. Gimana ya Mas penumpang ojek sekarang ini jauh berkurang, sebab untuk jarak yang tak seberapa jauh lebih banyak yang memilih bejalan kaki dan mereka lebih pagi berangkatnya, kayanya setelah BBM naik makin banyak orang yang menjadi sehat karena berjalan kaki, haha bagus juga buat mereka BBM naik, tapi beberapa hari ini saya dapat tarikan jauh-jauh Mas, karena jalan-jalan macet akibat dari para pen-DEMO BBM yang memenuhi sebagian ruas jalan, rejeki buat saya dan rugi buat penumpang saya.

“Sudah sampai Mas”, teguran Roni menyadarkan dari keterpakuanku melihat antrian kendaraan berjejer di salan satu SPBU, ternyata BBM masih terbeli juga oleh masyarakat kita………..

Pak Mista si Pedagang Sayur

Dari halaman rumah ini akan terlihat jelas hamparan petak-petak sawah yang berjenjang, dari tepian kali kecil terus mendekati lereng bukit sejajar dengan jalan kecil yang mendaki, di ujung desa sebelum jalan raya ada sebuah jembatan kayu yang sudah tua namun masih membentang kokoh untuk dilewati. Di seberang jembatan ada sebuah tugu batas desa yang di buat sedemikian rupa hingga mirip pos penjagaan, di samping tugu itu ada balai-balai bambu yang beratapkan daun rumbia. Di sinilah sebagian dari penduduk desa biasa berkumpul setiap selesai subuh menunggu kendaraan untuk membawa hasil taninya ke kota, pemandangan yang hampir sama pada setiap pagi selalu menjadi keasikan tersendiri buatku jika berada di sini, hawa pagi yang sejuk tegur sapa yang yang ramah dan obrolan pagi yang senantiasa bergembira ditingkahi gelak tawa adalah salah satu alasan kuat mengapa aku sering berkunjung ke desa ini.

Sesaat sebelum matahari menyapa Tugu batas desa ini akan sepi, kendaraan pengangkut hasil tani pergi meninggalkan asap hitam seperti isyarat buat mereka yang terlambat, sampai saat matahari akan tepat diatas kepala. Disini akan kembali ramai oleh anak-anak desa, mereka bersenda gurau penuh keceriaan sepulang dari sekolah dengan seragam putih-merahnya, terkadang mereka berlari berlomba untuk mendapatkan tempat di balai-balai. Anak-anak ceria itu baru akan bubar sampai kedatangan kendaraan dari kota yang membawa sebagian dari orang tua mereka. Setelah itu sampai keesokan paginya tugu itu benar-benar akan terasa sepi. Disinilah aku sering berlama-lama seorang diri menikmati kesejukan dan kedamaian desa.

Pertama kali kukenal desa ini dari pedagang sayur keliling langganan para ibu rumah tangga di sekitar tempat tinggalku, Pak Mista namanya yang begitu dekat dan akrab dengan keluarga kami, sudah menjadi langganan sejak aku masih kecil dan pembantu di rumah juga masih kerabatnya. Suatu saat dia mengundang keluarga kami untuk menghadiri pesta pernikahan puteranya, dikarenakan orang tuaku berhalangan maka jadilah aku sebagai utusan yang setengah terpaksa aku jalani, tak dinyana sejak saat itulah aku menyukai keindahan dan keasrian alam di kampung halaman Pak Mista yang memeberikan kesan damai di hatiku. Hampir pada tiap kesempatan liburan aku sering meluangkan waktu berkunjung ke sana, keramah tamahan penduduk desa dan penerimaan keluarga Pak Mista menjadikan kami begitu akrab sehingga desa ini seolah telah menjadi kampung halaman juga buat ku.

Saat ini aku hadir kembali di desa Pak Mista untuk menghadiri pemakaman Istrinya, tampak oleh ku betapa kesedihan yang sangat mendalam dari wajah seorang Bapak yang selalu tersenyum ceria setiap kali kami bertemu. “Pak Mista, relakan kepergian Ibu, ini adalah jalan terbaik dari NYA” begitu kubisikan di telingan Pak Mista sambil kupeluk tubuh yang sudah menua itu, dia hanya mengangguk tak terucap sepatah katapun dihapusnya titik air di kedua sudut matanya. kupapah orang tua itu dan kusandarkan pada dinding rumah.

Malamnya seusai ta’ziah saat hanya kami tinggal berdua, Pak Mista berkata dengan nada haru yang masih menyelimuti dirinya ” sebenarnya ada yang belum disampaikan pada istrinya bahwa setelah sekian lama dia berjualan sayur di kota dia telah menabung begitu banyak untuk menebus sawahnya yang tergadai dan akan menjualnya untuk membawa istrinya ke tanah suci”, dan pada tahun inilah jumlah uangnya dirasa mencukupi untuk menebus sawah itu, kiranya kalau terjual akan cukup sebagai ongkos keberangkatan mereka berdua, sawah itu dulu digadaikan senilai 50 gram emas untuk biaya persalinan putera pertama mereka yang harus dilakukan dengan operasi, sebagian lagi dijadikan modal berjualan sayur karena sawah yang biasa diolah telah berpindah tangan, sejak saat itu ia berdagang sayur keliling yang sampai saat ini dilakoninya.

Disodorkan sebuah buku tabungan kepadaku, entah sudah berapa kali berganti buku tabungan ini, kuamati angka demi angka dan kuperhatikan tanggalnya, tengah bulan dan akhir bulan selalu ada yang ditabung oleh Pak Mista dan pada kolom saldo terbaca angka yang tak terbayangkan kalau ini adalah tabungan milik Pak Mista seorang pedagang sayur, tercetak dengan jelas angka 10.775.689,33. Harga emas kini 200 ribu/gram, padahal waktu itu tak lebih dari 50 ribu/gram, tapi begitulah hutang emas bayar emas, Pak Mista menjelaskan.

Hampir 15 tahun dengan begitu disiplin Pak Mista menyisihkan uangnya untuk ditabung, “dulu saya hanya sisihkan 2.500 perhari dan beberapa tahun terakhir ini saya bisa menyisihkan 10 ribu perhari, begitu Pak Mista seakan mencoba menerangkan bagaimana angka sebanyak itu bisa terkumpul dari seorang penjual sayur.

Aku seperti merasa kecil dibanding kebesaran hatinya menjalani kehidupan ini, begitu tabah dan pantang menyerah, kesederhanaanya yang kukenal membuat lidahku kelu tak terucap sepatah katapun saat Pak Mista mempersilahkanku untuk istirahat. Di ruang tengah di atas hamparan tikar pandan kurebahkan tubuh mencoba untuk memejamkan mata yang tak kunjung terpejam sampai kokok ayam terdengar menandai pagi.

Kini tak terdengar lagi teriakan khas Pak Mista berkeliling menjajakan sayurnya di sekitar tempat tinggalku, dia telah memutuskan untuk kembali bertani dengan sawah yang telah ditebusnya. Seperti dulu saat libur aku sempatkan untuk mengunjungi Pak Mista yang sudah kembali tersenyum. “Sawah ini takkan pernah kujual, akan kutinggalkan buat anak cucuku kelak” ucapnya.

—————-
Disarikan dari cerita seorang sahabat.

Sumpah “PALAPA”

Kalau saja nusantara tak pernah disatukan di bawah kerajaan Majapahit maka pastilah sang patih Gajah Mada tak kan pernah tau rasa air kelapa yang begitu nikmat menyegarkan.

Terbayangkan betapa begitu beratnya sumpah yang diucapkan Gajah Mada, nusantara kita yang penuh dengan pohon nyiur di hampir setiap pelosok negeri ini dijadikan sebagai penyemangat untuk mengemban tugas Kerajaan.

Bagitu juga dalam skala yang teramat kecil, aku berikrar pada diri sendiri takan pernah membuka blog ku atau mengunjungi teman-teman di blog sebelum aku menemukan tempat dimana aku bisa berlama-lama menelusuri dunia maya ini. sementara akses ke dunia maya begitu terbuka luas dan teramat dekat.

Meski dengan perjuangan yang tidak bisa dibilang berat, akhirnya kumulai lagi menelusuri dunia maya ini, artinya aku sudah menemukan tempat yang cukup nyaman untuk mengucapkan ” salam dan h e l l o ” buat penghuni blogsphere umumnya dan di WP khususnya.

Agak membingungkan ternyata tampilan tempatku telah direnovasi sedemikian rupa oleh Matt, meski agak canggung tapi aku yakin ini masih tempat yang dulu, saatnya untuk menjadi go-Blog lagi.

terima kasih dan mohon maaf jika tak sempat langsung berkunjung, sambil menikmati blog walking aku melihat banyak perubahan dan sandainya saja tempat ini tak kutemukan maka aku takan pernah tau bagaimana indahnya blogsphere.

Bukan karena apa-apa

Tiga bulan sudah sejak saya memasuki dunia blogspher, banyak yang saya dapat tapi teramat sedikit yang saya berikan, terima kasih buat semua yang telah andil memberikan pengetahuan, pandangan hidup, hiburan dan suport. Tapi sayang saya mesti istirahat sejenak. Warnet tempat saya mangkal sedang bersiap-siap untuk pindah tempat, mungkin besok atau lusa bisa juga beberapa hari kedepan sementara saya belum menemukan tempat yang senyaman di sini (yang dekat dengan rumah saya).

Jadi saya mohon pamit, mohon maaf, mohon do’a, mohon jangan berprasangka apa-apa ini semata-mata karena alasan di atas, mudah-mudahan saya bisa segera menemukan kenyamanan di tempat baru, sampai bertemu kembali, Wassalam.

www.brapiolove.wordpress.com

Kisah seorang penjahit

Dua puluh tahun sudah aku duduk dibangku ini memandang jalan yang kadang sepi kadang riuh, entah sudah berapa celana dan kemeja yang kubuat, entah sudah berapa nama yang hadir dibuku pesanan yang terus berganti, hari ini aku masih disini.

Aku jejakan kakiku di ibukota ini saat usiaku 17 tahun, Mas Darso seorang penjahit dari desa kelahiranku yang membawaku untuk sekedar membantu dirumah, kadang memasang kancing baju atau celana dari para pemesan, lambat laun aku bisa memotong, mengukur dan menjahitnya, sehingga dengan hati lapang pada bulan ke delapan Mas Darso mencarikan aku tempat untuk berusaha sendiri, di sebuah jalan yang tak begitu ramai kusewa kios 2,5 x 4 meter sebagai tempat usaha sekaligus tempat tinggalku yang ditukar dengan uang hasil gadai sawah Bapak, mesin jahit pinjaman Mas Darso dan beberapa helai bahan celana dan baju juga dipinjamkanya.

Hari-hari pertamaku adalah hari-hari putus asa karena hampir seminggu belum satupun yang datang mengunjungi untuk minta dibuatkan celana maupun baju, minggu kedua keberuntungan Mas Darso berimbas pada ku saat sebuah sekolah memesan banyak celana dan baju seragam, sejak itulah aku mulai dikenal dan pelangganpun mulai berdatangan.

Seorang pelanggan menyarankan agar Aku membuat “plang” agar orang mudah mengenali dan mendatangi tempatku dan pelanggan baru mungkin akan tertarik untuk singgah. Sebuah nama terlintas dibenakku mungkin akan bagus “RAHAYU TAYLOR”.

Rahayu, siapa dia….? dia adalah wanita perkasa yang kulihat dibelantara ibukota ini setidaknya menurutku, dia tak pernah tau kalau telah menjadi inspirasi dan pemompa semangatku bahkan mungkin dia juga tak mengenal siapa aku. Selama aku duduk disini, hampir setiap hari kulihat seorang perempuan melintas dengan sepeda penuh semangat menuju dan kembali dari tempatnya bekerja. Sejak rambut hitamnya terurai sampai memutih, perempuan itu setiap pagi dan sore tetap melintas dengan sepedanya. Aku mengetahui nama perempuan itu saat seseorang menyapanya, Rahayu namanya.

Lima tahun sejak Rahayu Taylor berdiri merupakan saat dimana aku begitu banyak mendulang rejeki, pesanan langsung maupun order tambahan dari Mas Darso membuatku memutuskan untuk mencari tenaga tambahan demi memuaskan pelanggan, kepuasan pelanggan bukan hanya pada baiknya jahitan tetapi juga ketepatan waktu. Mungkin inilah yang menjadikan pelangganku terus bertambah, tahun keenam paviliun tempatku menyewa sudah menjadi miliku, kini kios sudah meluas menjadi 6 x 10 meter dengan sedikit halaman dan kubangun bertingkat, sungguh karunia luar biasa pada tahun itu juga Bapak menjodohkan aku dengan NING keponakan dari Mas Darso, seorang wanita yang lembut namun cekatan dan penuh kasih sayang dan tentu saja cantik di mataku.

Memasuki tahun kedelapan, mulailah agak tersendat usahaku, walaupun Mas Darso yang memutuskan pulang ke kampung merekomendasikan Rahayu Taylor untuk semua pelanggannya. Tahun itu konveksi tumbuh bak jamur dimusim penghujan, Baju Jadi dan kemeja Jadi menyerbu pasar dengan angkuhnya, ditambah mulai bermunculan Mall-mall dan pusat perbelanjaan mewah yang ikut mengecer pakaian jadi, semakin membenamkan usaha ku.

Orang-orang mulai berpikir praktis untuk hal sandang ini, untuk harga yang sama dengan ongkos jahit mereka sudah bisa membeli sebuah celana atau pun baju ditambah dengan mode yang terus berubah, alhasil sejak itu aku hanya menjahit pakaian seragam pegawai maupun seragam sekolah, tahun-tahun berikut pelanggan makin berkurang sekolah- sekolah kini bekerja sama dengan konveksi untuk pengadaan seragam para murid. Alhamdulillah masih ada satu dua pelanggan yang datang untuk membesarkan atau mengecilkan pakaian yang dibelinya.

Allah menunjukan kuasanya buat kami sekeluarga, samping rumah yang menghadap ke jalan kecil disulap oleh istriku menjadi warung nasi, setelah berembuk dengan ku untuk mengatasi keadaan ini dan demi kelangsungan hidup kami yang tentu saja aku setujui, di etalase kaca dituliskan “warung Nasi NING”, bukan Rahayu.

Rahayu, yah perempuan itu masih mengayuh sepedanya, ditengah lalu lalang kendaraan yang kian padat, disaat sepeda motor bertebaran, perempuan itu masih setia mengayuh sepeda pagi dan sore, Ning Istriku tak pernah tau kalau nama plang menjahitku adalah nama dari perempuan itu. Sama sepertiku Ning hanya tau kalau perempuan itu selalu melintas pagi dan sore di jalan ini dengan sepedanya.

Bagas dan Putri dua anakku kini sudah duduk dikelas 4 dan 6 sekolah dasar, aku masih menjahit dan istriku menjalankan warung nasinya, kami hidup bahagia meski jauh dari kemewahan namun juga tak kekurangan hanya halaman rumah kami sudah tak ada lagi dilahap oleh pelebaran jalan, sejak itu tak kulihat lagi Rahayu bersepeda melintas dijalan ini, entah dia sudah berhenti kerja atau wajahnya tertutup helem karena mengendarai sepeda motor yang kian memadati jalan-jalan di ibukota.

———-

disarikan dari cerita seorang sahabat