Posted on

D & R ; Dari Datuk II

Suatu kali selesai datuk memberikan khotbah jum’at, kami pulang berjalan kaki, kala itu belum musimnya khatib dijemput/antar.
 Sambil ngobrol kami melangkahkan kaki dengan ringan kebetulan udara siang itu cukup teduh. Sedang asik berjalan, tiba-tiba datuk memperlambat langkahnya.
“Kenapa ?”  “Jangan berjalan terlalu cepat, di depan kita ada Bapak-bapak tua, tidak baik kalau kita mendahuluinya”
“Kenapa?”  “Seandainya orang tua itu bisa berjalan lebih cepat pasti dia sudah lakukan”  
“Kenapa?”   “Karena Kita tidak inging menyinggung perasaan beliau”.
D&R, orang tua tadi berjalan memakai tongkat dan agak terpincang, begitu salah satu sikap datuk yang bisa kita ambil hikmahnya, siapapun dia kita tidak boleh menyakiti perasaan baik sengaja maupun tidak, entah tanggapan apa yang terbersit di hati D & R.
===#===
Ini salah satu (lagi) keteladanan datuk yang begitu melekat di hati.
Suatu hari Datuk sedang menebus obat di satu apotek ( seperti kita sama tau Nenek menderita kanker payudara ). Pada saat akan mengambil obat di sebelah Datuk ada seorang Bapak yang sedang berbincang dengan  petugas Apotek tsb.
” Pak, uangnya kurang. mohon Bapak lunasi dulu” ujar petugas tsb dengan ramah
” Maaf, Sus apa bisa saya bawa dulu, nanti pasti saya bayar ” ujar si Bapak memohon
” Maaf Pak Tidak bisa, silahkan Bapak pulang dulu, obatnya sudah kami siapkan ”
” Bagaimana sus, obat itu harus segera diminum?”
” Maaf Pak, saya mohon pengertiannya ” ujar petugas apotek
” Pakai saja uang ini dulu, silahkan dibawa obatnya ” sela Datuk sambil menyodorkan uang Rp. 25,-(dua puluh lima rupiah), kalau sekarang mungkin hanya Rp. 2.500,-
” Terima Kasih Pak ” Kata Bapak tsb kepada Datuk.
Datuk tak penah cerita kepada kami peristiwa itu bahkan mungkin datuk juga tidak ingat bagaimana rupa orang tsb, sampai suatu saat Datuk pulang shalat jum’at diantar dengan mobil sedan.
Bapak itu bercerita, saya tadi melihat Bapak(datuk) sedang berdiri di halte menunggu hujan reda, saya teringat wajah orang yang telah menyelamatkan anak saya, karena uang Rp. 25,- saya tidak terlambat memberikan obat ke anak saya.
“jangan begitu, saya hanya perantara dari kehendak Allah menyembuhkan anak Bapak” ujar Datuk
Sejak saat itu Bapak tersebut seringkali singgah ke rumah untuk sekedar menengok nenek dan membawakan obat-obatan.
D&R ternyata perbuatan yang dilakukan dengan ikhlas langsung berbalas di dunia, begitu juga dengan di akhirat kelak, jadi berbuat baiklah dengan ikhlas, beribadah dengan ikhlas. semoga D&R faham.
Iklan

2 responses to “D & R ; Dari Datuk II

  1. Indra1082

    Bismillah….
    Assalamualaikum…
    Salam Kenal…

  2. terima kasih sudah berkunjung….
    silahkan link, saya link balik y

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s