Posted on

Pernah, suatu hari…………..

Jalanan masih sangat sepi, maklum mataharipun belum menampakan diri tapi kami sudah melangkahkan kaki menyusuri pinggir rel KA.
Hampir setiap pagi hal itu kami lakukan semenjak Nenek kalian dinyatakan positif mengidap gula darah dan saran dokter agar banyak melakukan kegiatan olah raga terutama jalan pagi, selain mengurangi konsumsi makanan dengan kadar gula berlebihan.
Kali ini kami bertiga ( nenek mu, papa & om indra ) merubah rute yang biasa kami lakukan, kami berjalan menuju tepian kali ciliwung berlawanan arus sungai kami terus melangkah dan menyeberangi dengan rakit (getek). Tiba di seberang beberapa orang menatap kami karena merasa asing dengan kehadiran kami.
Seorang ibu menyapa ” Mau kemane Bu?” dengan logat betawi yang kental, pakaiannya sederhana tak beralas kaki. ” Biasa Bu, jalan pagi” jawab kami.
“Ibu sakit ye? keliatannye pucet”.
“Betul Bu, Ibu saya gula darahnya tinggi”
“Oh, same dong dengan suami saye, tapi die udah meninggal setaon lewat”
Ooh, hanya itu komentar kami dan kamipun pamit untuk melanjutkan perjalanan.
Setelah hari itu, kami makin merasa sayang dengan nenek mu, lambat atau cepat pasti kami akan berpisah karena kematian.
Setiap malam sebelum tidur papa selalu menyempatkan diri mencium pipi beliau, suatu hal yang belum pernah kami lakukan sebelumnya.
Deni-Rangga, kehilangan nenek adalah suatu hal yang sangat memukul diri papa meski sebenarnya kami tau hal ini akan terjadi, sungguh suatu kerinduan yang teramat sangat menoreh kalbu manakala kami teringat beliau, wajahnya bisa kami hadirkan lewat lamunan, tapi suara lembut penuh nasehat dan kasih sayang takkan pernah lagi kami dengar.
D & R, sekarang ini papa hanya bisa berdo’a, papa merasa sangat kurang berbakti saat nenek masih hidup, pesan papa jangan ulangi kesalahan papa. “Surga berada di bawah telapak kaki Ibu”
Deni dan Rangga, masih ingat lagu yang pernah papa nyanyikan saat papa bercerita tentang nenek, waktu itu kalian masih kecil.
Pabila kuteringat Ibunda
Ku mengalirkan airmata
Saat itu sangat bahagia
Ketika kau disampingku
Kini Bunda telah tiada
Diriku kehilangan Cinta
Tiada lagi belaian kasih
Semesra kasih Ibunda
Oh Ibu maafkanlah aku
Tak pernah berbakti padamu
Terimalah sembah sujudku
Semesta jadi saksinya
Iklan

4 responses to “Pernah, suatu hari…………..

  1. leny

    chayo..chayo (semangat).
    ini lagi satu dari tidak terhitungnya ungkapan untuk manusia sakral, tidak lekang dimakan waktu..Ibunda.

    Maafkan dirimu sendiri Nak
    kirimkan aku untaian doa Mu
    taburi aku dengan itu saja.

    salam kenal….

  2. hadi arr

    terima kasih sudah berkunjung
    salam kenal kembali

  3. zlamzani ⋅

    Tuker link boleh. Kayaknya se komunitas nih….
    link brapilolove dah tak pasang.
    backlink ya? Innerpower.wordpress.com
    thx

  4. wah mengharukan sekali :’) semoga bisa jadi pelajaran berharga bagi kita semua

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s