Posted on

episode yang hilang

Senja mulai turun saat kaki melangkah menuruni bukit, 
 gerimis kecil mengiringi bersama desau angin, membisikan sejuta kata
hawa dingin menusuk tembus ke sukmaku yang menghangat,
 begitu bahagianya aku berjalan bersisian ,
sejuta kata terlontar dari mulut  yang terbungkam,
senyum yang merekah di bibir adalah kata-kata yang sangat indah senja itu,
 maaf, kala itu aku tidak bersamamu.
.
Malam saat kabut menyelimuti lereng bukit kelabu 
duduk berhadapan memandangi setangkai bunga pelastik di atas meja kecil,
dua gelas teh panas mengeluarkan asap putih yang kemudian hilang tanpa pamit,
bunyi binatang malam yang terdengar lantang di kesunyian
membuat terulang lagi senyum indah senja tadi
tak dapat kulukiskan kebahagiaan dengan kata-kata.
kami masih tetap diam kemudian hening,
setitik air menyeruak di sudut mata,
maaf, waktu itu pun aku tidak bersamamu.
 .
Pagi, mentari menyapa lembut
 mengantar derap kaki para petani menuju tanah garapannya
aku terhenyak, kegelapan menyelimuti ,
dua kakiku seolah  tak sanggup menahan beban ,
aku tersungkur di hadapan jasad membeku,
masih kulihat ada senyum yang tak kan pernah terlupa ,
maaf, saat itu aku merindukanmu.
.
.
-cipanas,  1991
Iklan

9 responses to “episode yang hilang

  1. goop

    Perpindahan waktu yang manis skali :mrgreen:
    senja, malam dan pagi
    walau sepertinya endingnya tidak terlalu indah ya?? 😦

  2. Kurt

    dua kakiku seolah tak sanggup menahan beban ,
    aku tersungkur di hadapan jasad membeku,

    …. iyaa endingnya menakutkan… tapi menyedihkan
    tapi saya salut penggambaran alam yang natural… 🙂

  3. Hmmm, bener apa kata 2 senior saya di atas… Endingnya menyedihkan. Bulu kuduk saya sampai merinding…

  4. Gempur

    Melankolisku tersentak ..
    Tak terbayangkan,
    Andai aku berada di pagi itu dengan jasad membeku..
    Sejuta air mata pasti tertumpah ruah
    mengantarnya ke persemayaman bisu..

    Maaf pak! menggunakan kata ‘aku’, ingin hati membalas dengan bersajak, apa daya, naluri saya sudah terlanjur tumpul.. ehhmmm, maaf pak! Ikut terharu..

  5. episode yang hilang? tapi esok kan masih ada untuk mencari dan menemukan kembali, pak hadi, hehehehe 😆 konon, kita ini sedang dalam *halah* proses pencarian selama nyawa kita masih dikandung badan. itu seperti tergambar dalam novel “koooong”-nya iwan simatupang.
    BTW, salut banget nih sama pak hadi, piawai juga bikin puisi naratif. diksi dan rimanya cukup terjaga.
    *tepuk tangan*

  6. antarpulau ⋅

    Puitis banget….. 🙂
    Ikutan ahh….

    Dan dalam pergantian malam dan siang…

    Siang yg tak pernah lama.. selalu berganti dengan malam….
    Malam pun tak pernah lama…. selalu berganti dengan siang….

    Tidak ada yg tahu berapa lama siang dan malam yg akan kita jalani…..
    Berapa jumlah siang..
    dan berapa jumlah malam lagi yg tersisa….

    Hayoo… tinggal berapa lagi….. hehe…
    *halah… jadi mate-matika main itung-itungan… 🙂

  7. pr4s

    Cipanas 1991? Jadul bgt yak…. sy masih SD baru belajar baca tulis eh si om udah pinter bikin puisi. :mrgreen:

  8. seva

    ke cipanas baru sekali beberapa bulan yang lalu saat pendakian gede-pangrango.
    oia, kenapa namanya cipanas ya, padahal daerahnya duingiiin buangettt, harusnya kan cidingin.

  9. seva

    btw, mas hadi suka lagu2 om Ebiet G Ade?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s