Posted on

Kakiku 10,5 juta

Asmat, sebut saja begitu seorang anak muda pekerja serabutan anak dari seorang Bapak yang sudah tidak bekerja dan Ibunya sudah tiada, gambaran seorang anak muda yang punya dedikasi buat keluarga membanting tulang untuk Bapak dan seorang Adiknya serta seorang kakak perempuannya yang masih sekolah. Usianya 16 tahun lebih sedikit.

Tamat SMP, tak melanjutkan sekolah karena kakaknya yang sudah SMA masih butuh banyak biaya, sejak itulah dia mulai menjejakan kaki disebuah pasar mengerjakan apa saja yang bisa menghasilkan uang, ketekunan dan ketabahan serta kejujurannya menarik perhatian pemilik percetakan. Sejak saat itu Asmat bekerja tetap di percetakan, bakat di bidang percetakan menjadikannya terus berkembang. Sang Boss begitu mempercayainya, sedikit demi sedikit kehidupan keluarganya membaik, kakak nya sudah dia hantarkan sampai tamat SMA, bebannya berkurang karena kakak perempuannya kini bekerja menjadi cleaning service.

Waktu terus bergulir malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih, suatu malam sepulang dari kerja saat hendak menyebrangi rel kereta api, kakinya tersangkut bantalan rel dan pada saat bersamaan kereta jabotabek melintas meski telah berkelit kelima jari kaki kanannya hancur, dia pingsan.

Panik, gusar, sedih entah apa yang ada dibenak semua keluarga, tengah malam itu juga Asmat dibawa ke RS pemerintah diantar kakak dan beberapa pemuda setempat, masuk UGD lewati birokrasi selesaikan administrasi beberapa menit kemudian ditangani dokter, hanya diobati luka diberi obat penenang dan penahan rasa sakit, selesai …… masih pingsan.

Salah seorang pemuda pengantarnya memberi informasi bahwa kaki Asmat harus diamputasi agar tidak membusuk dan menjalar ke atas, biaya nya hampir 3,5 jt rupiah itupun setelah mengajukan surat keterangan tidak mampu dari kelurahan yang disetujui oleh dinas sosial.

Sang kakak menghadap boss percetakan yang hanya sanggup memberi 2 jt rupiah dengan catatan 500 ribu bantuan dan 1,5 jt menjadi hutang, pinjam kiri kanan, jual cincin yang hanya 2,5 gram cukuplah sudah, Asmat pun harus kehilangan telapak kakinya kira-kira 12 cm dari ujung jari, Asmat sadar, Asmat menangis, Asmat putus asa, Asmat menggigil, Asmat Pingsan, Asmat….  semua menangis buat dirinya. Lima hari perawatan, terbentur kondisi keuangan, Asmat pulang dengan catatan harus kontrol dan mengganti perban setiap 3 hari. 

Nasib mujur, seorang warga datang membawa pengacara dari “LBH ENTAHLAH”, kartu nama dan segudang pernyataan serta kesediaan sang pengacara tanpa dibayar menjadikan mereka bersuka cita untuk mengajukan Klaim asuransi. Siapkan semua persyaratan, mulai dari surat kelurahan, visum dokter sampai kesimpulan cacat tetap dari ahli bedah, copy resep dan kuitansi rumah sakit selesai sudah, sang pengacara mulai bertindak tak sepeserpun uang yang dia minta dari Asmat ataupun keluarga.

Dua minggu kemudian Sang pengacara datang membawa Asmat mengambil uang klaim asuransi, uang diterima sang pengacara memberikan rincian. “Selama Proses klaim ini berjalan pihak kami telah mengeluarkan biaya-biaya dari A s/d Z jumlahnya hampir 5 juta termasuk iuran buat LBH kami, surat menyurat, Lobbi petugas asuransi dan segala macam sampai biaya transportasi terketik rapi dalam kertas ber kop surat “LBH ENTAHLAH”, Asmat tak bisa mengelak.

Sisa uang 5,5 juta dibayarkan kehutang, mengganti uang tetangga selebihnya akan dipergunakan menyambung hidup, percetakan tempatnya bekerja sudah ada orang baru, kerja serabutan di pasar kaki tak lagi sempurna. Asmat bercerita KAKIKU INI 10,5 jt  Terima Kasih Tuhan……….

Walau tertatih Asmat terus berjalan, berjalan dan berjalan di salami setiap orang yang bertemu, sambil bercerita dan bercerita kakiku ini 10,5 juta terima kasih, terima kasih. Asmat  tidak lagi menangis, setiap sore kakak atau kadang adiknya menjemput Asmat dari Emperan Pasar, Asmat tersenyum………. Asmat tertawa…………

Iklan

9 responses to “Kakiku 10,5 juta

  1. Cerita yang sangat menyentuh dan mengharukan, Pak Hadi. “Strugle for live” dari si Asmat ini cukup kuat dan ikhlas menjalaninya. kalo saja pemuda di negeri ini memiliki karakter kayak si asmat yang punya etos kerja bagus ituh, kayaknya bisa mengurangi angkau pengangguran yang hingga kini mencapai kurang 40-an juta. Dapat musibah ternyata dia juga sabar dan tawakal.

  2. goop

    Sabar menghadapi musibah…
    tapi ko’ ya ada yg memanfaatkannya ya 😆
    atau memang itu suatu kebiasaan?? 😦

  3. rozenesia

    Ah, tragis. 😦

    Benar kata oom goop. Nasib wong cilik yang sudah tertawa riang melihat keelokan dunia, tetap saja dipakai sebagai sumber duwit bagi para pencari keduniaan. 😦

  4. antarpulau ⋅

    Itu baru kaki doank… senilai Rp 10,5 Juta…
    Belum anggota badan Asmat yg lain…..
    Berapa Juta modal yg di berikan Tuhan kepada kita melalui anggota tubuh kita….???

    …ngitung…
    *ah, nyerah, dah….*

    —————-
    btw: makasih atas ‘sentuhan hati’ nya Mas Brapio… 🙂

  5. bedh

    duh mau comment apa ni?
    bingung……..

    “Asmat sadar, Asmat menangis, Asmat putus asa, Asmat menggigil, Asmat Pingsan, Asmat…. semua menangis buat dirinya.”

    semua orang menangis memohon kepada Tuhan agar tak kena bencana seperti asmat.

    tapi “Asmat tersenyum………. Asmat tertawa…………”

    asmatttttttt dirimu jagoan sekali……..

    yang cerita juga jagoan.

    keren ih,

    penjahatnya:
    perusahaan asuransi
    tetangga yang ngebantu tapi pamrih
    LBH matre
    biaya rumah sakit yang mahal
    saya tak tau lagi, banyak banget penjahatnya.

    temen jagoan:
    Sawali Tuhusetya
    goop
    rozenesia
    antarpulau? <—- gak tau ni perannya apaan bis nggak ngerti ma commentnya huhuhuhu maap yah masa asmatnya mau dibeli sebadan2nya sih?
    huhuhuu canda mas

    tetangga jauh (mudah2an ntar lagi deket karna bakal lebih sering berkunjung):
    bedh <— —————sok iye.

  6. organ manusia memang mahal
    tapi nyawa manusia kok murah banget? makanya jalan terbaik adalah adanya pembunuhan disana sini yah?

    duuh…. jadi ingat orang jual daging ayam:
    ayam hidup harganya kurang lebih rp 8.500 an
    di jual di pasar 11.000 an, nahdagingnya bisa lebih mahal….. 2.500 rupiah….
    di jual di rumah makan satu potong dikasih harga 5000 rupiah minimal.
    padahal itu ada berapa potong ya? 2 sayap , 2 paha atas, 2 paha bawah, 2 dada, 2 punggung… jadi 10 bagian. maka jadinya rp 50.000 dan untungnya waah!
    eh… loh kok jadi komen tentang jualan ayam yah? o_O???

  7. erander

    Ada dua hal yang bisa dipetik dari postingan diatas:
    1. Tentang kehidupan manusia. Seperti bedh katakan ada penjahatnya ada orang baiknya. Ada kekesalan .. koq masih ada yang tega2nya. That’s life. Karena hidup itu memang kejam. Dan saya pikir .. kejadian seperti ini, banyak terjadi disekitar kita. Baik dalam skala kecil maupun besar.
    2. Tentang nikmat Allah .. sering kita lupa, apa yang telah dititipkan Allah pada kita, yaitu tubuh kita – bersyukurlah orang yang diberikan kesempurnaan apalagi ditambah dengan wajah yang cantik/ganteng, tinggi, kulit mulus putih dll – benar2 harus kita jaga dan rawat. Karena kita diberikan ‘gratis’ oleh Allah. Coba kalau semuanya harus dinilai dengan uang. Saya pikir .. ga ga kuat untuk membiayainya/membelinya.

  8. nafta1790 ⋅

    kaCian b9t yaZ,,,,buT tU SmuA kN dA hikMAHNya,,LaW 9a 9itU Mah,,maY Be hutAN9 piUTan9 nyA 9a bSa di bAYAr,,,,,,,hEHe,,tP yan9 sABar zA yEA,,,,,,,,psTi ALLAH N9asih kEMUdahan tO U famiLy tErmASuk U,,,,KeyZz

    ::terima kasih do’anya
    terima kasih juga sudah mampir
    btw, kok url nya gak nampil sih
    saya jadi gak bisa berkunjung

  9. mbak yul ⋅

    sabar yo mat semoga mat tabah

    ==> Mbak URL nya mannna?, terima kasih kunjungannnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s