Posted on

sesal kemudian tak berguna……

Sanu tak pernah tau siapa nama perempuan separuh baya itu, dimana tinggal dan berasal dari mana dia sama sekali tak pernah tau, namun kepergiannya meninggalkan sesal yang berkepanjangan bagi Sanu.

Berawal pada suatu pagi, saat orang-orang sibuk mengawali kegiatan, beberapa puluh meter dari tempat tinggalnya, terdengar hiruk pikuk yang tidak biasa, diurungkan menghidupkan sepeda motor didekati arah suara tadi terlihat kerumunan orang-orang membentuk lingkaran ditepi jalan raya.

+Ada apa Pak?

-Tabrak Lari !

+ Siapa yang tertabrak?

-Seorang pemulung

+Gimana keadaannya?

-Sepertinya sih belum mati……

Ditengok ketengah-tengan kerumunan tadi, nampak seorang perempuan separuh baya tergeletak tak berdaya, tak terdengar keluhan juga rintihan hanya matanya nanar memandangi orang-orang, pelipisnya berdarah dan satu kakinya terjuntai di selokan yang kering, di sekitarnya berceceran bekas gelas dan botol minuman air mineral, tak seorang pun menyentuhnya, apalagi memeriksa keadaannya, mereka hanya sibuk mengeluarkan suara-suara yang tak berguna tapi seolah menunjukan kepedulian.

Sesaat kemudian seorang pria berpakain rapi datang mendekati memegangnya kemudian berkata, “Beri dia minum, kalau ada berikan obat merah” lantas mengeluarkan Handphone menghubungi Polisi, “Sebentar Lagi Polisi datang, siapa yang bisa menemani ibu ini ke rumah sakit?” pertanyaan yang ditujukan pada setiap orang disana tak berjawab, “kalau begitu tunggu Polisi saja, karena saya harus pergi”

Waktu terus berlalu, tak seorangpun yang melakukan apa-apa termasuk Sanu yang hanya bisa memandangi tanpa tau harus berbuat apa, satu persatu orang-orang pergi meninggalkan sosok lemah itu, berbagai alasan terucap dari mereka yang berlalu.

“Maaf, Saya sudah terlambat”

“Saya Juga harus masuk kerja”

“Kalau jadi saksi bisa repot, harus bulak-balik ke kantor polisi”

“Belum lagi kalau ke rumah sakit, siapa yang mau nanggung biayanya”

“Lagian hanya seorang pemulung”

Sanu tersentak, hanya seorang pemulung………., jadi bisa dibiarkan saja karena bukan urusan kita, saudara bukan kerabat juga bukan bahkan sosoknya pun  baru lihat saat ini. Rasa kemanusiaan Sanu tersentuh di dekatinya perempuan  itu, memang masih bernafas.

“Bu, sabar ya sebentar lagi Polisi Datang”

“Haaauuus Pak” lirih suara itu hampir tak terdengar

Sanu berlari, dibawakannya segelas air mineral namun perempuan  itu tak bisa mengangkat kepalanya yang terkulai, Sanu merasa sendiri diantara beberapa orang yang masih menonton belum ada seorangpun yang bergerak. “Mas, mari saya bantu” seorang laki-laki yang berjalan limbung dengan kata-kata yang mengambang membantu Sanu, mengangkat kepala wanita itu, hanya seteguk yang masuk, tatapan wanita itu hampa. “Sini Mas, nanti saya saja yang berikan minumnya” bau alkohol menyeruak dari mulut laki-laki itu. Hah, dia mabuk, kiranya hanya seorang pemabuk yang mau menolong.

Polisi tiba, melihat kemudian menyetop Bajaj dan menyuruh menaikan perempuan itu, Sanu dibantu si pemuda mabuk tadi susah payah membopong sementara sang polisi sibuk memberikan laporan ke posnya, suara radio HT memecah perhatian orang-orang. “Biar mas, saya saja yang menemani ibu ini, Bajaj nya nggak muat lagian mas kan harus kerja”, Sanu hanya mengangguk,  rasa senang lepas dari tanggungjawab berbaur dengan  rasa iba. “Bajaj, bawa ke rumah sakit, ikuti saya” seru polisi itu sambil masuk kemobil kijang kapsul patrolinya.

Saat Sanu makan siang di sebuah warung pinggir jalan ada seorang pengamen yang yang dikenali membantu korban tabrak lari 2 hari yang lalu.

“Bung, bagaimana ibu itu?

“Ibu yang mana mas?”

“Yang kamu antar ke Rumah sakit”

“Dia meninggal mas, kata dokter terlambat dibawa ke rumah sakitnya”

Sanu termenung, seandainya waktu itu langsung berinisiatif membawa ke Rumah sakit, seandainya tak harus nunggu Polisi, seandainya pemuda mabuk itu cepat datang, seandainya……………,seandainya dan berjuta seandainya, tiba-tiba saja Sanu kehilangan selera makannya.

Sanu, Allah lebih tau apa yang terbaik buat umatNYA, begitu kata guru mengaji saat dia menceritakan apa yang dialaminya. Sanu sedikit lega namun rasa sesal selalu datang manakala teringat peristiwa itu.

Iklan

11 responses to “sesal kemudian tak berguna……

  1. rozenesia

    Ahhh… Selalu seandainya jika semua telah terjadi. 😦

    Baidewei, mengenai orang-orang yang ga menolong itu, mereka pasti berpikir: secara teknis saya benar. 👿

    ): begitulah manusia Mas Gun, seringkali rasa kemanusiaan menjadi nomor 2 👿

  2. ceritanya menarik pak hadi, sarat dengan konflik batin. sanu yang menyesal akibat terlambat menolong ibu pemulung itu tak ubahnya seperti sedang menghadapi buah simalakama. antara menolong dan tidak. namun, semua sudah telanjur terjadi. si ibu itu akhirnya meninggal. Tuhan sudah menuliskannya dalam suratan takdir. si ibu pemulung memang harus meninggal dengan cara semacam itu. namun, agaknya peristiwa tragis itu akan memberikan hikmah dan pelajaran berharga ketika dia harus menghadapi peristiwa yang sama.
    wuih salut pak hadi.

    ): wah Pak Sawali, saya jadi GE-ER nih;)
    maut memang guru yang tak berkata-kata

  3. realylife ⋅

    nice story , saya suka
    saya mau ngundang buat baca cerpen yang ini
    makasih ya
    http://realylife.wordpress.com/2007/12/31/jangan-panggil-aku-pelacur/

    ): terima kasih udah mampir
    ya, saya akan mampir

  4. gempur

    Sanu, beribu dan berjuta sanu masih ada dalam benak dan batin kita. Jikalau saja saya menjadi sanu, boleh jadi akan bertindak yang sama.. Kalkulasi dunia sudah meruntuhkan peradaban kemanusiaan yang memanusiakan manusia..

    Angkat topi untuk pemabuk yang baik hati.. 😉

    ): Benar sekali, tingkat kepedulian sesama tak bisa berjalan manakala kebutuhan hidup belum terpenuhi

  5. Yang namanya sesal pasti akan datang di “kemudian” waktu
    Dan … menurut saya tidak sepenuhnya sesal itu tidak berguna. Bukankah penyesalan yang membuka pintu penyadaran dan kesadaran diri merupakan suatu bentuk pembelajaran dalam hidup? Yah…setidaknya sesal itu merupakan sumber ilmu dan juga sekaligus anak kunci yang membuka kekangan kebebalan kita.
    Kalau masalah ketidakbergunaan sesal untuk menyelamatkan sang ibu sich itu sudah bukan hal yang penting untuk dibahas. Yang lebih penting adalah bagaimana kita bisa menerapkan kesadaran dan penyadaran diri itu di masa mendatang.

    Mengenai ironi yang ada … dimana pihak yang mau menolong justru seorang pemabuk kok malahan membuat saya menjadi semakin keras tertawa …. *tertawa getir dan sedih*

    ): terima kasih, semoga penyesalan sanu menjadi pembelajaran buat kita semua

  6. antarpulau ⋅

    Iiiiiiihhhh…….. sebel….. sebel….
    Kenapa ceritanya selalu bikin haru sih….
    sebeLLLLLLLL………….
    Aku kan gak kuat menahan tangis…..

    *lari ke kamar mandi*

    ): Jangan nangis, nanti Sanu tambah menyesal!!!!!
    *gedor kamar mandi*

  7. indra1082

    Penyesalan selalu datang terlambat…
    dan kita tidak bisa menilai seseornag dari Baju yg dikenakannya..
    Berdasi dan parlente belum tentu berhati malaikat
    tapi pemabuk dan gembel belum tentu berhati jahat

    ): setuju Bung Indra,
    *apa kabar nih*

  8. Sayap KU ⋅

    Duh tabrak lari, koq sampai hati yah …

    -Ade-

    ): entahlah De, mungkin rasa kemanusiaannya nggak ada

  9. wah, saya suka dengan pemunculan karakter pemabuk yang baik hati itu..bener2 suatu ironi..

    ): mungkin begitu kali yaa, harus mabuk dulu baru mau menolong

  10. knapa mo nolong mesti liat-liat dulu yak?
    jadi inget dulu ada yg pernah ngebahas, kalo kita mo nolong orang laen apa harus tanya agamanya apa?

    ): jadi nggak usah terlalu idealis kali yaa

  11. edratna

    Sekarang kalau ada tabrak lari, orang berkerumun tapi tak berani menolong. Tapi memang kadang menolong orang tertabrak bukannya menjadi baik, tapi kalau tak tahu, malah bisa membuat cedera. Yang benar menghubungi Rumah Sakit, karena mereka yang ahli dalam menangani orang dan membawanya tanpa membuat cedera tambahan….masalahnya di Indonesia, ambulans terbatas.

    ): Betul sekali mbak Edratna, sayangnya bukan cuma ambulans yang terbatas tapi kadang respons nya juga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s