Posted on

Pak Mista si Pedagang Sayur

Dari halaman rumah ini akan terlihat jelas hamparan petak-petak sawah yang berjenjang, dari tepian kali kecil terus mendekati lereng bukit sejajar dengan jalan kecil yang mendaki, di ujung desa sebelum jalan raya ada sebuah jembatan kayu yang sudah tua namun masih membentang kokoh untuk dilewati. Di seberang jembatan ada sebuah tugu batas desa yang di buat sedemikian rupa hingga mirip pos penjagaan, di samping tugu itu ada balai-balai bambu yang beratapkan daun rumbia. Di sinilah sebagian dari penduduk desa biasa berkumpul setiap selesai subuh menunggu kendaraan untuk membawa hasil taninya ke kota, pemandangan yang hampir sama pada setiap pagi selalu menjadi keasikan tersendiri buatku jika berada di sini, hawa pagi yang sejuk tegur sapa yang yang ramah dan obrolan pagi yang senantiasa bergembira ditingkahi gelak tawa adalah salah satu alasan kuat mengapa aku sering berkunjung ke desa ini.

Sesaat sebelum matahari menyapa Tugu batas desa ini akan sepi, kendaraan pengangkut hasil tani pergi meninggalkan asap hitam seperti isyarat buat mereka yang terlambat, sampai saat matahari akan tepat diatas kepala. Disini akan kembali ramai oleh anak-anak desa, mereka bersenda gurau penuh keceriaan sepulang dari sekolah dengan seragam putih-merahnya, terkadang mereka berlari berlomba untuk mendapatkan tempat di balai-balai. Anak-anak ceria itu baru akan bubar sampai kedatangan kendaraan dari kota yang membawa sebagian dari orang tua mereka. Setelah itu sampai keesokan paginya tugu itu benar-benar akan terasa sepi. Disinilah aku sering berlama-lama seorang diri menikmati kesejukan dan kedamaian desa.

Pertama kali kukenal desa ini dari pedagang sayur keliling langganan para ibu rumah tangga di sekitar tempat tinggalku, Pak Mista namanya yang begitu dekat dan akrab dengan keluarga kami, sudah menjadi langganan sejak aku masih kecil dan pembantu di rumah juga masih kerabatnya. Suatu saat dia mengundang keluarga kami untuk menghadiri pesta pernikahan puteranya, dikarenakan orang tuaku berhalangan maka jadilah aku sebagai utusan yang setengah terpaksa aku jalani, tak dinyana sejak saat itulah aku menyukai keindahan dan keasrian alam di kampung halaman Pak Mista yang memeberikan kesan damai di hatiku. Hampir pada tiap kesempatan liburan aku sering meluangkan waktu berkunjung ke sana, keramah tamahan penduduk desa dan penerimaan keluarga Pak Mista menjadikan kami begitu akrab sehingga desa ini seolah telah menjadi kampung halaman juga buat ku.

Saat ini aku hadir kembali di desa Pak Mista untuk menghadiri pemakaman Istrinya, tampak oleh ku betapa kesedihan yang sangat mendalam dari wajah seorang Bapak yang selalu tersenyum ceria setiap kali kami bertemu. “Pak Mista, relakan kepergian Ibu, ini adalah jalan terbaik dari NYA” begitu kubisikan di telingan Pak Mista sambil kupeluk tubuh yang sudah menua itu, dia hanya mengangguk tak terucap sepatah katapun dihapusnya titik air di kedua sudut matanya. kupapah orang tua itu dan kusandarkan pada dinding rumah.

Malamnya seusai ta’ziah saat hanya kami tinggal berdua, Pak Mista berkata dengan nada haru yang masih menyelimuti dirinya ” sebenarnya ada yang belum disampaikan pada istrinya bahwa setelah sekian lama dia berjualan sayur di kota dia telah menabung begitu banyak untuk menebus sawahnya yang tergadai dan akan menjualnya untuk membawa istrinya ke tanah suci”, dan pada tahun inilah jumlah uangnya dirasa mencukupi untuk menebus sawah itu, kiranya kalau terjual akan cukup sebagai ongkos keberangkatan mereka berdua, sawah itu dulu digadaikan senilai 50 gram emas untuk biaya persalinan putera pertama mereka yang harus dilakukan dengan operasi, sebagian lagi dijadikan modal berjualan sayur karena sawah yang biasa diolah telah berpindah tangan, sejak saat itu ia berdagang sayur keliling yang sampai saat ini dilakoninya.

Disodorkan sebuah buku tabungan kepadaku, entah sudah berapa kali berganti buku tabungan ini, kuamati angka demi angka dan kuperhatikan tanggalnya, tengah bulan dan akhir bulan selalu ada yang ditabung oleh Pak Mista dan pada kolom saldo terbaca angka yang tak terbayangkan kalau ini adalah tabungan milik Pak Mista seorang pedagang sayur, tercetak dengan jelas angka 10.775.689,33. Harga emas kini 200 ribu/gram, padahal waktu itu tak lebih dari 50 ribu/gram, tapi begitulah hutang emas bayar emas, Pak Mista menjelaskan.

Hampir 15 tahun dengan begitu disiplin Pak Mista menyisihkan uangnya untuk ditabung, “dulu saya hanya sisihkan 2.500 perhari dan beberapa tahun terakhir ini saya bisa menyisihkan 10 ribu perhari, begitu Pak Mista seakan mencoba menerangkan bagaimana angka sebanyak itu bisa terkumpul dari seorang penjual sayur.

Aku seperti merasa kecil dibanding kebesaran hatinya menjalani kehidupan ini, begitu tabah dan pantang menyerah, kesederhanaanya yang kukenal membuat lidahku kelu tak terucap sepatah katapun saat Pak Mista mempersilahkanku untuk istirahat. Di ruang tengah di atas hamparan tikar pandan kurebahkan tubuh mencoba untuk memejamkan mata yang tak kunjung terpejam sampai kokok ayam terdengar menandai pagi.

Kini tak terdengar lagi teriakan khas Pak Mista berkeliling menjajakan sayurnya di sekitar tempat tinggalku, dia telah memutuskan untuk kembali bertani dengan sawah yang telah ditebusnya. Seperti dulu saat libur aku sempatkan untuk mengunjungi Pak Mista yang sudah kembali tersenyum. “Sawah ini takkan pernah kujual, akan kutinggalkan buat anak cucuku kelak” ucapnya.

—————-
Disarikan dari cerita seorang sahabat.

Iklan

5 responses to “Pak Mista si Pedagang Sayur

  1. melalui kisah ini, Pak Mista sudah memberikan pembelajaran kepada kita betapa kesederhanaan dan ketabahan mampu memuliakan derajat dan martabat kita di tengah2 kehidupan masyarakat. Namun, manusia memang hanya bisa berencana, Tuhanlah juga yang menentukan segala suratan nasib manusia. Meski sang istri meninggal sebelum bisa berangkat haji bersama, niat Pak Mista telah tercatat sebagai sebuah kemuliaan. semoga muncul banyak pak mista di sekitar kita, Pak Hadi.

  2. goop

    pelajaran bagaimana menyanyangi apa yang dikerjakan, menabung dan menyintai…
    menjadi tidak mudah, karena berbagai keterbatasan yang dihadapi, tapi bukannya tidak mungkin, ya pak?
    :mrgreen:

  3. ulan

    ckckckckck.. kisah mengharukan..
    mulai sekarang aku mau nabung 10 ribu sehari ah..

  4. edratna

    Betapapun kecilnya setiap hari bisa menyisihkan pendapatannya setiap bulan. Cerita yang sangat menyentuh….moga-moga pak Mista diberi ketenangan batin….

  5. Aris

    Perjuangan yg ulet dan tekun dari seorang pak Mista yg bisa diteladani bersama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s