Pak Mista si Pedagang Sayur

Dari halaman rumah ini akan terlihat jelas hamparan petak-petak sawah yang berjenjang, dari tepian kali kecil terus mendekati lereng bukit sejajar dengan jalan kecil yang mendaki, di ujung desa sebelum jalan raya ada sebuah jembatan kayu yang sudah tua namun masih membentang kokoh untuk dilewati. Di seberang jembatan ada sebuah tugu batas desa yang di buat sedemikian rupa hingga mirip pos penjagaan, di samping tugu itu ada balai-balai bambu yang beratapkan daun rumbia. Di sinilah sebagian dari penduduk desa biasa berkumpul setiap selesai subuh menunggu kendaraan untuk membawa hasil taninya ke kota, pemandangan yang hampir sama pada setiap pagi selalu menjadi keasikan tersendiri buatku jika berada di sini, hawa pagi yang sejuk tegur sapa yang yang ramah dan obrolan pagi yang senantiasa bergembira ditingkahi gelak tawa adalah salah satu alasan kuat mengapa aku sering berkunjung ke desa ini.

Sesaat sebelum matahari menyapa Tugu batas desa ini akan sepi, kendaraan pengangkut hasil tani pergi meninggalkan asap hitam seperti isyarat buat mereka yang terlambat, sampai saat matahari akan tepat diatas kepala. Disini akan kembali ramai oleh anak-anak desa, mereka bersenda gurau penuh keceriaan sepulang dari sekolah dengan seragam putih-merahnya, terkadang mereka berlari berlomba untuk mendapatkan tempat di balai-balai. Anak-anak ceria itu baru akan bubar sampai kedatangan kendaraan dari kota yang membawa sebagian dari orang tua mereka. Setelah itu sampai keesokan paginya tugu itu benar-benar akan terasa sepi. Disinilah aku sering berlama-lama seorang diri menikmati kesejukan dan kedamaian desa.

Pertama kali kukenal desa ini dari pedagang sayur keliling langganan para ibu rumah tangga di sekitar tempat tinggalku, Pak Mista namanya yang begitu dekat dan akrab dengan keluarga kami, sudah menjadi langganan sejak aku masih kecil dan pembantu di rumah juga masih kerabatnya. Suatu saat dia mengundang keluarga kami untuk menghadiri pesta pernikahan puteranya, dikarenakan orang tuaku berhalangan maka jadilah aku sebagai utusan yang setengah terpaksa aku jalani, tak dinyana sejak saat itulah aku menyukai keindahan dan keasrian alam di kampung halaman Pak Mista yang memeberikan kesan damai di hatiku. Hampir pada tiap kesempatan liburan aku sering meluangkan waktu berkunjung ke sana, keramah tamahan penduduk desa dan penerimaan keluarga Pak Mista menjadikan kami begitu akrab sehingga desa ini seolah telah menjadi kampung halaman juga buat ku.

Saat ini aku hadir kembali di desa Pak Mista untuk menghadiri pemakaman Istrinya, tampak oleh ku betapa kesedihan yang sangat mendalam dari wajah seorang Bapak yang selalu tersenyum ceria setiap kali kami bertemu. “Pak Mista, relakan kepergian Ibu, ini adalah jalan terbaik dari NYA” begitu kubisikan di telingan Pak Mista sambil kupeluk tubuh yang sudah menua itu, dia hanya mengangguk tak terucap sepatah katapun dihapusnya titik air di kedua sudut matanya. kupapah orang tua itu dan kusandarkan pada dinding rumah.

Malamnya seusai ta’ziah saat hanya kami tinggal berdua, Pak Mista berkata dengan nada haru yang masih menyelimuti dirinya ” sebenarnya ada yang belum disampaikan pada istrinya bahwa setelah sekian lama dia berjualan sayur di kota dia telah menabung begitu banyak untuk menebus sawahnya yang tergadai dan akan menjualnya untuk membawa istrinya ke tanah suci”, dan pada tahun inilah jumlah uangnya dirasa mencukupi untuk menebus sawah itu, kiranya kalau terjual akan cukup sebagai ongkos keberangkatan mereka berdua, sawah itu dulu digadaikan senilai 50 gram emas untuk biaya persalinan putera pertama mereka yang harus dilakukan dengan operasi, sebagian lagi dijadikan modal berjualan sayur karena sawah yang biasa diolah telah berpindah tangan, sejak saat itu ia berdagang sayur keliling yang sampai saat ini dilakoninya.

Disodorkan sebuah buku tabungan kepadaku, entah sudah berapa kali berganti buku tabungan ini, kuamati angka demi angka dan kuperhatikan tanggalnya, tengah bulan dan akhir bulan selalu ada yang ditabung oleh Pak Mista dan pada kolom saldo terbaca angka yang tak terbayangkan kalau ini adalah tabungan milik Pak Mista seorang pedagang sayur, tercetak dengan jelas angka 10.775.689,33. Harga emas kini 200 ribu/gram, padahal waktu itu tak lebih dari 50 ribu/gram, tapi begitulah hutang emas bayar emas, Pak Mista menjelaskan.

Hampir 15 tahun dengan begitu disiplin Pak Mista menyisihkan uangnya untuk ditabung, “dulu saya hanya sisihkan 2.500 perhari dan beberapa tahun terakhir ini saya bisa menyisihkan 10 ribu perhari, begitu Pak Mista seakan mencoba menerangkan bagaimana angka sebanyak itu bisa terkumpul dari seorang penjual sayur.

Aku seperti merasa kecil dibanding kebesaran hatinya menjalani kehidupan ini, begitu tabah dan pantang menyerah, kesederhanaanya yang kukenal membuat lidahku kelu tak terucap sepatah katapun saat Pak Mista mempersilahkanku untuk istirahat. Di ruang tengah di atas hamparan tikar pandan kurebahkan tubuh mencoba untuk memejamkan mata yang tak kunjung terpejam sampai kokok ayam terdengar menandai pagi.

Kini tak terdengar lagi teriakan khas Pak Mista berkeliling menjajakan sayurnya di sekitar tempat tinggalku, dia telah memutuskan untuk kembali bertani dengan sawah yang telah ditebusnya. Seperti dulu saat libur aku sempatkan untuk mengunjungi Pak Mista yang sudah kembali tersenyum. “Sawah ini takkan pernah kujual, akan kutinggalkan buat anak cucuku kelak” ucapnya.

—————-
Disarikan dari cerita seorang sahabat.

Kisah seorang penjahit

Dua puluh tahun sudah aku duduk dibangku ini memandang jalan yang kadang sepi kadang riuh, entah sudah berapa celana dan kemeja yang kubuat, entah sudah berapa nama yang hadir dibuku pesanan yang terus berganti, hari ini aku masih disini.

Aku jejakan kakiku di ibukota ini saat usiaku 17 tahun, Mas Darso seorang penjahit dari desa kelahiranku yang membawaku untuk sekedar membantu dirumah, kadang memasang kancing baju atau celana dari para pemesan, lambat laun aku bisa memotong, mengukur dan menjahitnya, sehingga dengan hati lapang pada bulan ke delapan Mas Darso mencarikan aku tempat untuk berusaha sendiri, di sebuah jalan yang tak begitu ramai kusewa kios 2,5 x 4 meter sebagai tempat usaha sekaligus tempat tinggalku yang ditukar dengan uang hasil gadai sawah Bapak, mesin jahit pinjaman Mas Darso dan beberapa helai bahan celana dan baju juga dipinjamkanya.

Hari-hari pertamaku adalah hari-hari putus asa karena hampir seminggu belum satupun yang datang mengunjungi untuk minta dibuatkan celana maupun baju, minggu kedua keberuntungan Mas Darso berimbas pada ku saat sebuah sekolah memesan banyak celana dan baju seragam, sejak itulah aku mulai dikenal dan pelangganpun mulai berdatangan.

Seorang pelanggan menyarankan agar Aku membuat “plang” agar orang mudah mengenali dan mendatangi tempatku dan pelanggan baru mungkin akan tertarik untuk singgah. Sebuah nama terlintas dibenakku mungkin akan bagus “RAHAYU TAYLOR”.

Rahayu, siapa dia….? dia adalah wanita perkasa yang kulihat dibelantara ibukota ini setidaknya menurutku, dia tak pernah tau kalau telah menjadi inspirasi dan pemompa semangatku bahkan mungkin dia juga tak mengenal siapa aku. Selama aku duduk disini, hampir setiap hari kulihat seorang perempuan melintas dengan sepeda penuh semangat menuju dan kembali dari tempatnya bekerja. Sejak rambut hitamnya terurai sampai memutih, perempuan itu setiap pagi dan sore tetap melintas dengan sepedanya. Aku mengetahui nama perempuan itu saat seseorang menyapanya, Rahayu namanya.

Lima tahun sejak Rahayu Taylor berdiri merupakan saat dimana aku begitu banyak mendulang rejeki, pesanan langsung maupun order tambahan dari Mas Darso membuatku memutuskan untuk mencari tenaga tambahan demi memuaskan pelanggan, kepuasan pelanggan bukan hanya pada baiknya jahitan tetapi juga ketepatan waktu. Mungkin inilah yang menjadikan pelangganku terus bertambah, tahun keenam paviliun tempatku menyewa sudah menjadi miliku, kini kios sudah meluas menjadi 6 x 10 meter dengan sedikit halaman dan kubangun bertingkat, sungguh karunia luar biasa pada tahun itu juga Bapak menjodohkan aku dengan NING keponakan dari Mas Darso, seorang wanita yang lembut namun cekatan dan penuh kasih sayang dan tentu saja cantik di mataku.

Memasuki tahun kedelapan, mulailah agak tersendat usahaku, walaupun Mas Darso yang memutuskan pulang ke kampung merekomendasikan Rahayu Taylor untuk semua pelanggannya. Tahun itu konveksi tumbuh bak jamur dimusim penghujan, Baju Jadi dan kemeja Jadi menyerbu pasar dengan angkuhnya, ditambah mulai bermunculan Mall-mall dan pusat perbelanjaan mewah yang ikut mengecer pakaian jadi, semakin membenamkan usaha ku.

Orang-orang mulai berpikir praktis untuk hal sandang ini, untuk harga yang sama dengan ongkos jahit mereka sudah bisa membeli sebuah celana atau pun baju ditambah dengan mode yang terus berubah, alhasil sejak itu aku hanya menjahit pakaian seragam pegawai maupun seragam sekolah, tahun-tahun berikut pelanggan makin berkurang sekolah- sekolah kini bekerja sama dengan konveksi untuk pengadaan seragam para murid. Alhamdulillah masih ada satu dua pelanggan yang datang untuk membesarkan atau mengecilkan pakaian yang dibelinya.

Allah menunjukan kuasanya buat kami sekeluarga, samping rumah yang menghadap ke jalan kecil disulap oleh istriku menjadi warung nasi, setelah berembuk dengan ku untuk mengatasi keadaan ini dan demi kelangsungan hidup kami yang tentu saja aku setujui, di etalase kaca dituliskan “warung Nasi NING”, bukan Rahayu.

Rahayu, yah perempuan itu masih mengayuh sepedanya, ditengah lalu lalang kendaraan yang kian padat, disaat sepeda motor bertebaran, perempuan itu masih setia mengayuh sepeda pagi dan sore, Ning Istriku tak pernah tau kalau nama plang menjahitku adalah nama dari perempuan itu. Sama sepertiku Ning hanya tau kalau perempuan itu selalu melintas pagi dan sore di jalan ini dengan sepedanya.

Bagas dan Putri dua anakku kini sudah duduk dikelas 4 dan 6 sekolah dasar, aku masih menjahit dan istriku menjalankan warung nasinya, kami hidup bahagia meski jauh dari kemewahan namun juga tak kekurangan hanya halaman rumah kami sudah tak ada lagi dilahap oleh pelebaran jalan, sejak itu tak kulihat lagi Rahayu bersepeda melintas dijalan ini, entah dia sudah berhenti kerja atau wajahnya tertutup helem karena mengendarai sepeda motor yang kian memadati jalan-jalan di ibukota.

———-

disarikan dari cerita seorang sahabat

 

Klenik dan Minyak Wangi

Seorang guru pelanggan Ijal memberi tahu, bahwa ada seseorang yang ingin ketemu dengannya, Ijal menyambut gembira dan berfikir paling-paling  butuh  minyakwangi. Guru itu kemudian memberikan alamat  rumah Pak Maman, orang yang ingin bertemu dengan Ijal.

Pak maman mempersilahkan Ijal masuk dan langsung menutup pintu rumahnya, tak ada orang lain kecuali mereka berdua hingga Ijal terusik untuk bertanya sekedar memulai pembicaraan.

“Pada kemana Pak, keliatannya sepi?”

“Iya Mas Ijal, istri dan anak-anak  sudah 2 minggu ini berada di kampung”.

“ooh begitu, Pak Guru  bilang Bapak ingin bertemu saya, ada apa ya Pak?”

“Ini lho Mas, kami berencana untuk menetap di kampung mau bertani lagi, dan kami berniat menjual rumah ini”.

“Terus hubungannya sama saya apa Pak?”

“Begini Mas, kemarin saya sudah berkonsultasi dengan orang pintar kalau rumah ini harus dibersihkan dulu biar cepat laku, katanya rumah ini kelihatan suram, padahal sudah banyak yang datang melihat tapi selalu nggak jadi membeli”.

“Saya rasa rumah bapak sangat bersih dan temboknya kelihatan baru di cat”.

“Bukan begitu, masa Mas Ijal nggak tau maksudnya”.

Rupanya Pak Maman diminta untuk menyediakan perlengkapan membesihkan rumah yang dimaksud adalah mengusir setan dan jin yang ada di rumahnya itu, Pak Maman yakin benar dengan semua ucapan orang pintarnya, mulai dari kesehatan istri dan anak-anaknya yang sering terganggu sampai pada usaha Pak Maman yang menurun merupakan alasan kuat yang sangat dipercaya Pak Maman. “padahal saya baru ketemu untuk pertama kali lho Mas dengan orang pintar itu, tapi dia tau semua tentang saya dan keluarga”

Nah, salah satu kebutuhannya adalah minyak wangi Mas, kalau nggak salah saya disuruh menyediakan minyak “JAFARON” dan “MISIK” apa mas Ijal punya yang saya maksudkan,  atau mungkin bisa carikan buat saya. Ijal menarik nafas panjang, berkecamuk fikiran antara memperoleh keuntungan dan penolakan bathinnya atas permintaan Pak maman. “Kenapa nggak minta carikan sama orang pintar itu aja Pak, bukankah jadi lebih baik dan nggak bakal salah?” Ijal mencoba berkelit. “Memang ada dan dia sudah menunjukan tempat membelinya tapi harganya kan mahal Mas  200 ribu sebotol kecil seperti ini” Pak Maman menunjukan botol kecil yang Ijal tau isinya paling banyak 1,5 cc, malah yang satunya 500 ribu dengan ukuran yang sama dan harus kontan. Barangkali dengan Mas Ijal saya bisa bayar separuhnya dulu dan separuhnya lagi kalau rumah ini sudah laku,  percaya sama saya Mas pasti saya bayar.

Terbayang oleh Ijal, dibayar 50 ribu saja sudah merupakan keuntungan yang berlipat,  ada keraguan di hati Ijal antara menolak dan rasa ingin menolong Pak Maman, kalau toh ditolaknya Pak Maman Pasti akan tetap membeli dan mencari ke tempat lain dengan harga yang sangat mahal, kalau disediakan apakah ini tidak temasuk ikut menyetujui perdukunan.

“Baiklah Pak kapan orang itu akan datang nanti saya bawakan”

“Tiga hari lagi Mas, saya harus kasih berapa dulu?”

“Nanti aja Pak, jangan khawatir Insya Allah saya datang”

Ijal pulang dengan perasaan dan pikiran yang masih tak menentu, apa yang sebaiknya dilakukan dan bagaimana agar Pak Maman mengerti bahwa dia telah terjebak dalam kesyirikan tanpa disadari.

Tiga hari berlalu,  Ijal sudah hadir kembali di rumah Pak Maman yang kali ini bersama orang pintarnya, seorang lelaki separuh baya berpenampilan menarik, mengunakan baju koko putih dengan peci hitam, diatas meja ada kotak kayu yang entah apa isinya.

“Bagaimana Mas Ijal, dapat minyaknya?”

“Ada Pak” Ijal menyerahkan 2 botol berukuran 5 cc

Wajah orang pintar itu berubah melihat apa yang Ijal sodorkan, terkesan bahwa dia tidak suka akan hal ini, ” Pak Maman, minyak ini saya bawa dulu, saya kerjakan di rumah saja” orang itu kemudian pamit setelah membawa minyak wangi dan sekepal tanah dari halaman rumah. Di ujung jalan orang itu dijemput dengan sepeda motor.

“Terima kasih Mas Ijal, ini saya bayar 300 ribu dulu, nggak apa-apa kan?”

“Nggak usah Pak, saya yakin orang itu takan kembali lagi”

Ijal menjelaskan bahwa Pak Maman baru saja terlepas dari penipuan, “Pak, mereka bekerja sama untuk mengelabui, yang menjemput tadi saya kenal betul dia juga penjual minyak wangi seperti saya, kalau boleh saya terus terang minyak itu tak lebih dari 20 ribu rupiah, dan maaf Pak Maman bukan saya menggurui, percaya kepada peramal atau ahli nujum akan menyeret kita kepada kemusyrikan”

Setelah meyakinkan Pak maman, Ijal pun pamit dan dia tak dapat menolak ketika Pak maman memaksa meyodorkan uang 20 ribu sebagai pengganti minyak wangi yang dibawa orang tadi.

Ijal kembali berjalan mendatangi sekolah-sekolah berbagi kisah dan pengalaman dengan guru-guru yang masih setia menjadi pelanggan nya.

 

———-

disarikan dari cerita seorang sahabat.

Penjual Minyak Wangi

Selepas shalat Ashar, Ijal duduk di teras mesjid disandarkan tubuhnya yang letih setelah seharian berkeliling dari satu sekolah ke sekolah lain, dia menjajakan Minyak wangi kepada guru-guru dan pegawai sekolah, biasanya dia mengunjungi sekolah pada saat jam istirahat dimana para guru biasanya berkumpul di ruang  guru.
Hari ini belum banyak yang membeli,  di tangannya    baru  ada uang hasil penjualan sebesar Rp. 30.000,-  artinya uang sebesar itu akan habis besok pagi untuk sarapan dan bekal 3 orang anaknya sekolah serta ongkos berkeliling dirinya, lantas apa yang akan ditinggalkan buat istri di rumah dan makan ketiga anaknya sepulang sekolah, Ijal berniat untuk mendatangi salah satu sekolah lagi, tapi diurungkan saat ini jam istirahat telah selesai dan para guru berada dalam kelas.
+ “Mas, tempat penitipan sepatunya mana?” tanya seorang Bapak 
x “sebelah sana, tapi orangnya sudah pulang,kenapa Pak?”
+ “Saya mau shalat Ashar” sambil menengok sekeliling
x”Kalau begitu silahkan Pak, biar sepatunya titip disini, kebetulan saya belum mau pulang” Ijal menangkap kekhawatiran dari si Bapak itu.
Selesai shalat Bapak tadi bercerita bahwa dia pernah kehilangan sepatu beberapa waktu yang lalu saat shalat ashar di mesjid ini.
+ “Terima kasih Mas jadi ngerepotin, mau kemana Mas?”
x “mau pulang Pak habis berjualan” ujar Ijal setengan berpromosi
+ “Jualan apa Mas, mana barangnya?”
x “Minyak wangi Pak, di dalam tas ini”
+ “Cuma satu tas itu bawaannya?”
x “Iya Pak, sebab saya menjual “biang”nya
+ “Wah, saya baru tau kalau minyak wangi ada biangnya, boleh saya liat?”
Ijal pun dengan semangat mengeluarkan beberapa botol minyak wangi tersebut sambil menerangkan bahwa biangnya ini belum dicampur alkohol.
+ “kalau saya mau beli bagaimana caranya?”
x “Saya jual per cc Pak, Boleh berapa saja”
+ “Harganya berapa?”
x “Ada yang seribu, 2 ribu sampai 4 ribu per cc”
+ “Yang bagus yang mana mas?”
x “tegantung selera Pak, ini ada MISIK, KESTURI, seribu bunga dan banyak lagi Pak untuk harum seperti yang Bapak pakai juga ada Pak”
+ ” Ah yang bener, memangnya saya pakai Parfum apa?”
x “Merk “ini” kan Pak?” ujar Ijal sambil menyorongkan salah satu botol minyak wangi.
+ “wah hebat, kalau begitu saya beli 10 cc, harganya berapa?”
x “ini memang agak mahal Pak, 4000 per ccnya
+ “nggak apa-apa, bikin 2 ya”
Ijal dengan cekatan mengambil alat injeksi yang tersambung dengan selang kecil, ditariknya sampai seukuran 10 cc.
x “Ini Pak 10 cc dijadikan 2 botol Pak” tanya Ijal sambil memperlihatkan ukuran yang tertera di tabung injeksi itu
+ “bukan, dua-duanya 10 cc, ini uangnya nggak usah dikembalikan”
+ “Alhamdulillah, terima kasih Pak”
Bapak itu kemudian bertanya kepada Ijal tentang usaha yang digelutinya itu, dengan terbuka Ijal menjelaskan, Dia sudah lebih 5 tahun berjualan dari satu sekolah ke sekolah yang lain, hampir semua sekolah  di daerahnya pernah dia singgahi, sampai Ijal tau benar Ibu A, Bapak B mengajar dimana, pendeknya kalau dijadikan penilik sekolah mungkin Ijal tau persis bagaimana kondisi masing-masing sekolah terutama dari bangunan fisiknya, Ijal mengaku bahwa dia suka dengan pekerjaan ini selain mencari nafkah tali silaturahmipun terjalin baik dengan para guru karena hampir setiap dua bulan sekali Ijal berkunjung kesekolah yang sama.
Karena disekolah para guru selalu menyambut baik kedatangan saya dibanding dengan perkantoran atau dari rumah ke rumah, mereka senantiasa tersenyum dan bertutur ramah setiap saya berkunjung hingga saat tidak membelipun saya tak pernah merasa kecewa, begitu Ijal memberikan alasan saat ditanyakan mengapa sekolah yang jadi tujuan penjualannya. Bahkan saya bukan lagi dipandang sebagai penjual minyak wangi semata, saya seolah dianggap bagian dari mereka, sebab jika lama tidak datang ada saja teman guru yang menelepon ke rumah menanyakan kabar saya atau kadang memesan minyak wangi untuk diantarkan ke sekolah tempatnya mengajar.
Sebelum pergi bapak tadi mencatat nomor telepon Ijal sambil menyodorkan kartunama, Insya Allah kita bertemu lagi ujarnya. Letihnya hilang, dengan penuh semangat Ijal berangkat pulang sambil menyisipkan dua lembar uang ribuan ke kotak amal masjid, terima kasih Ya ALLAH hari ini KAU tambah satu lagi saudaraku.
  b e r s a m b u n g …….
———-

disarikan dari cerita seorang sahabat   

 

 

 

 

sesal kemudian tak berguna……

Sanu tak pernah tau siapa nama perempuan separuh baya itu, dimana tinggal dan berasal dari mana dia sama sekali tak pernah tau, namun kepergiannya meninggalkan sesal yang berkepanjangan bagi Sanu.

Berawal pada suatu pagi, saat orang-orang sibuk mengawali kegiatan, beberapa puluh meter dari tempat tinggalnya, terdengar hiruk pikuk yang tidak biasa, diurungkan menghidupkan sepeda motor didekati arah suara tadi terlihat kerumunan orang-orang membentuk lingkaran ditepi jalan raya.

+Ada apa Pak?

-Tabrak Lari !

+ Siapa yang tertabrak?

-Seorang pemulung

+Gimana keadaannya?

-Sepertinya sih belum mati……

Ditengok ketengah-tengan kerumunan tadi, nampak seorang perempuan separuh baya tergeletak tak berdaya, tak terdengar keluhan juga rintihan hanya matanya nanar memandangi orang-orang, pelipisnya berdarah dan satu kakinya terjuntai di selokan yang kering, di sekitarnya berceceran bekas gelas dan botol minuman air mineral, tak seorang pun menyentuhnya, apalagi memeriksa keadaannya, mereka hanya sibuk mengeluarkan suara-suara yang tak berguna tapi seolah menunjukan kepedulian.

Sesaat kemudian seorang pria berpakain rapi datang mendekati memegangnya kemudian berkata, “Beri dia minum, kalau ada berikan obat merah” lantas mengeluarkan Handphone menghubungi Polisi, “Sebentar Lagi Polisi datang, siapa yang bisa menemani ibu ini ke rumah sakit?” pertanyaan yang ditujukan pada setiap orang disana tak berjawab, “kalau begitu tunggu Polisi saja, karena saya harus pergi”

Waktu terus berlalu, tak seorangpun yang melakukan apa-apa termasuk Sanu yang hanya bisa memandangi tanpa tau harus berbuat apa, satu persatu orang-orang pergi meninggalkan sosok lemah itu, berbagai alasan terucap dari mereka yang berlalu.

“Maaf, Saya sudah terlambat”

“Saya Juga harus masuk kerja”

“Kalau jadi saksi bisa repot, harus bulak-balik ke kantor polisi”

“Belum lagi kalau ke rumah sakit, siapa yang mau nanggung biayanya”

“Lagian hanya seorang pemulung”

Sanu tersentak, hanya seorang pemulung………., jadi bisa dibiarkan saja karena bukan urusan kita, saudara bukan kerabat juga bukan bahkan sosoknya pun  baru lihat saat ini. Rasa kemanusiaan Sanu tersentuh di dekatinya perempuan  itu, memang masih bernafas.

“Bu, sabar ya sebentar lagi Polisi Datang”

“Haaauuus Pak” lirih suara itu hampir tak terdengar

Sanu berlari, dibawakannya segelas air mineral namun perempuan  itu tak bisa mengangkat kepalanya yang terkulai, Sanu merasa sendiri diantara beberapa orang yang masih menonton belum ada seorangpun yang bergerak. “Mas, mari saya bantu” seorang laki-laki yang berjalan limbung dengan kata-kata yang mengambang membantu Sanu, mengangkat kepala wanita itu, hanya seteguk yang masuk, tatapan wanita itu hampa. “Sini Mas, nanti saya saja yang berikan minumnya” bau alkohol menyeruak dari mulut laki-laki itu. Hah, dia mabuk, kiranya hanya seorang pemabuk yang mau menolong.

Polisi tiba, melihat kemudian menyetop Bajaj dan menyuruh menaikan perempuan itu, Sanu dibantu si pemuda mabuk tadi susah payah membopong sementara sang polisi sibuk memberikan laporan ke posnya, suara radio HT memecah perhatian orang-orang. “Biar mas, saya saja yang menemani ibu ini, Bajaj nya nggak muat lagian mas kan harus kerja”, Sanu hanya mengangguk,  rasa senang lepas dari tanggungjawab berbaur dengan  rasa iba. “Bajaj, bawa ke rumah sakit, ikuti saya” seru polisi itu sambil masuk kemobil kijang kapsul patrolinya.

Saat Sanu makan siang di sebuah warung pinggir jalan ada seorang pengamen yang yang dikenali membantu korban tabrak lari 2 hari yang lalu.

“Bung, bagaimana ibu itu?

“Ibu yang mana mas?”

“Yang kamu antar ke Rumah sakit”

“Dia meninggal mas, kata dokter terlambat dibawa ke rumah sakitnya”

Sanu termenung, seandainya waktu itu langsung berinisiatif membawa ke Rumah sakit, seandainya tak harus nunggu Polisi, seandainya pemuda mabuk itu cepat datang, seandainya……………,seandainya dan berjuta seandainya, tiba-tiba saja Sanu kehilangan selera makannya.

Sanu, Allah lebih tau apa yang terbaik buat umatNYA, begitu kata guru mengaji saat dia menceritakan apa yang dialaminya. Sanu sedikit lega namun rasa sesal selalu datang manakala teringat peristiwa itu.

Kakiku 10,5 juta

Asmat, sebut saja begitu seorang anak muda pekerja serabutan anak dari seorang Bapak yang sudah tidak bekerja dan Ibunya sudah tiada, gambaran seorang anak muda yang punya dedikasi buat keluarga membanting tulang untuk Bapak dan seorang Adiknya serta seorang kakak perempuannya yang masih sekolah. Usianya 16 tahun lebih sedikit.

Tamat SMP, tak melanjutkan sekolah karena kakaknya yang sudah SMA masih butuh banyak biaya, sejak itulah dia mulai menjejakan kaki disebuah pasar mengerjakan apa saja yang bisa menghasilkan uang, ketekunan dan ketabahan serta kejujurannya menarik perhatian pemilik percetakan. Sejak saat itu Asmat bekerja tetap di percetakan, bakat di bidang percetakan menjadikannya terus berkembang. Sang Boss begitu mempercayainya, sedikit demi sedikit kehidupan keluarganya membaik, kakak nya sudah dia hantarkan sampai tamat SMA, bebannya berkurang karena kakak perempuannya kini bekerja menjadi cleaning service.

Waktu terus bergulir malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih, suatu malam sepulang dari kerja saat hendak menyebrangi rel kereta api, kakinya tersangkut bantalan rel dan pada saat bersamaan kereta jabotabek melintas meski telah berkelit kelima jari kaki kanannya hancur, dia pingsan.

Panik, gusar, sedih entah apa yang ada dibenak semua keluarga, tengah malam itu juga Asmat dibawa ke RS pemerintah diantar kakak dan beberapa pemuda setempat, masuk UGD lewati birokrasi selesaikan administrasi beberapa menit kemudian ditangani dokter, hanya diobati luka diberi obat penenang dan penahan rasa sakit, selesai …… masih pingsan.

Salah seorang pemuda pengantarnya memberi informasi bahwa kaki Asmat harus diamputasi agar tidak membusuk dan menjalar ke atas, biaya nya hampir 3,5 jt rupiah itupun setelah mengajukan surat keterangan tidak mampu dari kelurahan yang disetujui oleh dinas sosial.

Sang kakak menghadap boss percetakan yang hanya sanggup memberi 2 jt rupiah dengan catatan 500 ribu bantuan dan 1,5 jt menjadi hutang, pinjam kiri kanan, jual cincin yang hanya 2,5 gram cukuplah sudah, Asmat pun harus kehilangan telapak kakinya kira-kira 12 cm dari ujung jari, Asmat sadar, Asmat menangis, Asmat putus asa, Asmat menggigil, Asmat Pingsan, Asmat….  semua menangis buat dirinya. Lima hari perawatan, terbentur kondisi keuangan, Asmat pulang dengan catatan harus kontrol dan mengganti perban setiap 3 hari. 

Nasib mujur, seorang warga datang membawa pengacara dari “LBH ENTAHLAH”, kartu nama dan segudang pernyataan serta kesediaan sang pengacara tanpa dibayar menjadikan mereka bersuka cita untuk mengajukan Klaim asuransi. Siapkan semua persyaratan, mulai dari surat kelurahan, visum dokter sampai kesimpulan cacat tetap dari ahli bedah, copy resep dan kuitansi rumah sakit selesai sudah, sang pengacara mulai bertindak tak sepeserpun uang yang dia minta dari Asmat ataupun keluarga.

Dua minggu kemudian Sang pengacara datang membawa Asmat mengambil uang klaim asuransi, uang diterima sang pengacara memberikan rincian. “Selama Proses klaim ini berjalan pihak kami telah mengeluarkan biaya-biaya dari A s/d Z jumlahnya hampir 5 juta termasuk iuran buat LBH kami, surat menyurat, Lobbi petugas asuransi dan segala macam sampai biaya transportasi terketik rapi dalam kertas ber kop surat “LBH ENTAHLAH”, Asmat tak bisa mengelak.

Sisa uang 5,5 juta dibayarkan kehutang, mengganti uang tetangga selebihnya akan dipergunakan menyambung hidup, percetakan tempatnya bekerja sudah ada orang baru, kerja serabutan di pasar kaki tak lagi sempurna. Asmat bercerita KAKIKU INI 10,5 jt  Terima Kasih Tuhan……….

Walau tertatih Asmat terus berjalan, berjalan dan berjalan di salami setiap orang yang bertemu, sambil bercerita dan bercerita kakiku ini 10,5 juta terima kasih, terima kasih. Asmat  tidak lagi menangis, setiap sore kakak atau kadang adiknya menjemput Asmat dari Emperan Pasar, Asmat tersenyum………. Asmat tertawa…………