BBM dan Ojek

Sapaan ramah para tukang ojek selalu akan terdengar jika ada KRL (Kereta Rel Listrik) yang merapat di salah satu stasiun dan menurunkan penumpangnya untuk melanjutkan perjalanan dengan sarana transportasi yang lain, pagi hari adalah waktu yang paling banyak memberikan peluang buat semua peng-ojek (ojekers) apalagi jika KRL agak sedikit terlambat maka mereka akan diperebutkan oleh karyawan yang takut kena SP atau pelajar yang takut kena sanksi. Beberapa pengojek yang mempunyai pelanggan biasanya akan menolak secara halus dengan alasan menunggu, walau dengan perasaan kecewa sang calon penumpang bisa memaklumi.

Roni, salah seorang pengojek yang mangkal di stasiun adalah termasuk yang cukup beruntung dia mempunyai dua orang pelanggan tetap, seorang pelajar dan seorang karyawan swasta, biasanya si pelajar di antar lebih dahulu karena selain jaraknya yang lebih dekat waktu masuk pun lebih dahulu, dari dua orang ini Roni memperoleh Rp. 300.000,-setiap bulannya. Selesai mengantar dua pelanggannya itu Roni kembali ke Stasiun tempatnya mangkal, paling tidak sampai menjelang tengah hari dia bisa mengantar 3 atau 4 orang penumpang dari hasil inilah Roni membiayai Rumah Tangganya sedangkan hasil bulanannya akan di pegang sang Istri untuk keperluan lainnya.

Roni, ternyata adalah lulusan fakultas Ekonomi salah satu perguruan tinggi dan pernah bekerja di salah satu Bank swasta yang terlikuidasi, “Mulanya saya berharap akan kembali mendapat pekerjaan baik di Bank atau perusahaan apa saja yang sesuai dengan kapasitas saya, empat bulan baru saya menyadari kalau kewajiban saya sebagai seorang suami dan sekaligus ayah tak mengenal akan krisis ekonomi, dengan menjual kijang kebanggaan selama ini saya beli sepeda motor sisanya saya tabung untuk melunasi angsuran rumah”. begitulah Roni sedikit berkisah sambil sesekali menatap gedung-gedung tinggi di kiri Jalan. ” Di gedung ini dulu kantor saya, hebat ya Mas?” sekarang…….. inilah saya di tengah-tengah lalu lalang dan deru serta asap kendaraan, tapi Mas saya jauh lebih beruntung dibanding rekan saya yang sampai saat ini menjadi depresi.

Beberapa hari kemudian Aku bertemu lagi dengan RONI, Ojek Mas? begitu sapanya sopan dan tanpa basa-basi aku segera duduk di jok bagian belakang namun Roni tak segera menjalankan motornya malah bertanya tujuan Ku, rupanya perbincangan tempo hari tak mampu buat Roni mengenali wajah dan perawakanku. “Kita ke sebelah gedung tempat Mas Roni dulu bekerja, ingat nggak?”, dia berpaling dan seakan baru tersadar “Wah Mas yang tempo hari yaa, Mari Mas, kalau buat Mas ngak perlu di tawar-tawarin deh.

Sejak BBM Naik, banyak yang selalu bertanya ongkos ojeknya berapa kalau ke sana, kesini atau kesitu, padahal Mas saya hanya minta lebih 1.000 rupiah saja tapi banyak yang mengeluh karena gaji mereka di kantor sampai saat ini belum disesuaikan, begitu alasan mereka. Gimana ya Mas penumpang ojek sekarang ini jauh berkurang, sebab untuk jarak yang tak seberapa jauh lebih banyak yang memilih bejalan kaki dan mereka lebih pagi berangkatnya, kayanya setelah BBM naik makin banyak orang yang menjadi sehat karena berjalan kaki, haha bagus juga buat mereka BBM naik, tapi beberapa hari ini saya dapat tarikan jauh-jauh Mas, karena jalan-jalan macet akibat dari para pen-DEMO BBM yang memenuhi sebagian ruas jalan, rejeki buat saya dan rugi buat penumpang saya.

“Sudah sampai Mas”, teguran Roni menyadarkan dari keterpakuanku melihat antrian kendaraan berjejer di salan satu SPBU, ternyata BBM masih terbeli juga oleh masyarakat kita………..

Nantikan aku dalam do’a

Pekik merdeka dan suara takbir
berlomba memacu semangat
sementara,
bau anyir menyeruak
dari mayat-mayat bergelimang darah
memicu dendam sang angkara
.
sayangku,
bila mentari meredup diufuk sana
dan aku belum kembali
ceritakan padanya tentang para pejuang
sementara,
kulangkahkan kaki
diatas tanah merah basah oleh darah
.
senyum para syuhada
menikam jauh ke lubuk hati
melewati merah darah dan putih tulang
membakar nyali mengobarkan kesumat
.
sayangku,
bila mentari meredup diufuk sana
dan aku belum kembali
nantikan aku dalam do’a
———-

inspirasi “Kerawang Bakasi” oleh: Chairil Anwar.

Karya-karyanya senantiasa bernuansa Cinta, perjuangan dan Kematian, beliau sendiri tak lama hidup di dunia fana ini dan meninggal sebelum genap usia 27 tahun.